Tradisi Salin-Menyalin Kitab: Memaknai Temuan Manuskrip Kuno di PP. Bustanul Makmur Kebunrejo Genteng

Admin HS
23 Sep 2026, 18:15 WIB 60x dibaca
Tradisi Salin-Menyalin Kitab: Memaknai Temuan Manuskrip Kuno di PP. Bustanul Makmur Kebunrejo Genteng

Naskah Sebagai Penjaga Sanad Keilmuan

 

Mengacu pada definisi yang diberikan Zamakhsyari Dhofier, supaya bisa dikatakan sebuah lembaga menjadi pondok pesantren harus memenuhi lima unsur dasar, salah satunya adanya Pembelajaran Kitab Kuning. Pembelajaran kitab kuning yakni kajian kitab karangan ulama-ulama terkemuka terutama kitab-kitab klasik yang bermadzhab Imam Syafi'i yang merupakan kurikulum atau materi utama yang diajarkan dan dikaji dalam tradisi keilmuan yang diberikan di lingkungan pesantren. Menariknya, pembelajaran kitab kuning di sini, di sebagian pondok pesantren terutama pondok pesantren salaf (tradisional) masih melestarikan kegiatan salin-menyalin kitab. Para santri menyalin kitab cetakan dengan menulis ulang sebelum kegiatan pembelajaran kitab kuning dimulai. Kegiatan tersebut pada dasarnya sudah lama dilakukan oleh ulama-ulama, kiai-kiai terdahulu ketika menyalin kitab atau mengarang kitab dengan cara ditulis dengan tangan (handwriting), hasil dari tulisan tersebut berupa manuskrip.

 

Di dunia pesantren, manuskrip memiliki peran krusial sebagai penjaga sanad keilmuan. Juga tradisi intelektual, terutama dalam khazanah keilmuan Islam dan Nusantara. Manuskrip atau naskah kuno bukan sekadar benda bersejarah, melainkan bukti otentik tersambungnya sebuah ilmu dari satu generasi ke generasi berikutnya. Manuskrip atau naskah kuno, juga merupakan salah satu bentuk warisan bangsa yang tidak ternilai harganya karena dapat membuka kembali identitas bangsa pada masa lampau. Kebudayaan pada masa lampau merupakan sebuah dasar bagi keberadaan kita pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Tidak hanya menganai khazanah keilmuan keislaman saja, manuskrip juga memiliki kandungan isi yang beragam, seperti: ajaran agama, ajaran budi pakerti, resep obat-obatan, strategi perang, surat, hukum adat, dan masih banyak lainnya yang berhubungan dengan aspek kehidupan manusia.  

 

Penemuan Manuskrip di Pondok Pesantren Bustanul Makmur Kebunrejo


Pondok Pesantren Bustanul Makmur Kebunrejo Genteng tenyata menyimpan sebuah manuskrip yang diduga peninggalan dari pendiri atau pengasuh pertama Pondok Pesantren Bustanul Makmur. Ahmad Mustanir, Lurah (ketua pengurus harian) PP. Bustanul Makmur Putra muncul ketika sedang merombak perpustakaan pondok. Manuskrip tersebut berbahan dasar dari pepagan (kulit kayu) pohon saeh atau paper mulberry (Broussonetia papyrifera) yang dipipihkan menjadi lembaran, yang hasilnya dikenal dengan kertas Daluang yang digunakan sebagai media tulis tradisional khas Nusantara.


Dalam temuan tersebut, kondisi manuskrip bisa dikatakan kurang baik. Pasalnya ada beberapa lembar manuskrip sudah terkoyak dan dimakan rayap, juga tidak ada sampul (binding) atau pelindung terluar manuskrip. Manuskrip tersebut teridentifikasi berisi ajaran Tauhid menggunakan aksara pegon berbahasa Jawa, sebagaimana yang dijelaskan dalam mukadimahnya sebagai berikut:

 

Bismillahirrahmanirrahim

(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).

 

Alhamdulillahilladzi kaasyifissirri biasroorihi washsholawaati 'alal insaani sirruhu minal bariyyah ajma'iin

(Segala puji bagi Allah yang membuka/menyingkapkan rahasia dengan rahasia-rahasia-Nya. Dan selawat serta salam semoga tercurah kepada manusia yang menjadi rahasia-Nya di antara seluruh makhluk (merujuk kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam).

 

Qaalasy syaikhul imaamul 'aariful faqirudh dho'iifu rahmatullah 'alaihi Yusuf bin Muhammadin al mukiyyatu qadasaallahu ruuhul 'aziinu

(Telah berkata seorang Syekh Imam yang arif, yang fakir lagi lemah semoga rahmat Allah tercurah kepadanya Yusuf bin Muhammad Al-Makki semoga Allah menyucikan ruhnya yang mulia).

 

Fii bayaanis sirril ghooibati wasysyahadati minal kasyifil asrorir rubuubiyyati

(Kitab ini) dalam menjelaskan rahasia yang gaib dan yang nyata, dari penyingkapan rahasia-rahasia ketuhanan).

 

Wata'lamal ustadil haqqu wayu'thiyaallahu ta'aala 'alaya darojatil anbiyai wal auliyai wasysyuhadaai washshoolihiin

(Dan ajaran dari guru yang sejati, dan apa yang Allah Ta'ala berikan atas derajat para nabi, para wali, para syuhada, dan orang-orang saleh).

 

Watashowwaru haalid dunyaa wal akhiroti wahdaaniyati fii 'ilmit tauhidi

(Serta gambaran tentang keadaan dunia, akhirat, dan keesaan Allah dalam ilmu tauhid).

 

Wahadihil kitaabi majmuumati minatth thoriiqil auliyaai wal anbiyaai wal muhtaadi waminath thoriiqi waliyyin wal anbiyaai wal mukhtaari quthbin.

(Dan kitab ini merupakan kumpulan dari jalan (tarikat) para wali, para nabi, dan kutub (pemimpin para wali) yang terpilih).

 

Wahiya asrooril 'aziinu wa sammaytuhu bayaanis sirri

(Dan ini adalah rahasia-rahasia yang agung, dan aku menamakannya (kitab) Bayanis Sirri (Penjelasan Rahasia).

 

Dalam manuskrip tersebut juga ditemukan beberapa nama tokoh yang disertai tanggal, bulan, pasaran hingga tahun kelahiran juga wafatnya, sebagai berikut:

 

Abdul Razak lahir ing wulan Sawal tanggal dua ari Sabtu pancawara Pon wukunê  Landêp

(Abdul Razak lahir di bulan Sawal tanggal dua hari Sabtu pasaran Pon wukunya Landep).

 

Bakri lahir wulan Shafar tanggal êmpat ari Rêbu pancawara Pahing wukunê Wayang tahun Jim Akhir tahun Walandi tahun Sanga Wêlas

(Bakri lahir bulan Shafar tanggal empat hari Rabu pasaran Pahing wukunya Wayang tahun Jim Akhir tahun Walandi tahun Sembilan Belas).

 

Nyai Asmuni (?) kang sêpo sêdo wulan Haji tanggal pitu likur dino Kamis wukunê Landêp

(Nyai Asmuni (?) yang tua meninggal bulan Haji tanggal dua puluh tujuh hari Kamis wukunya Landep).

 

Dari nama-nama tokoh di atas terdapat satu nama yang bisa dibilang cukup lengkap sebagai informasi awal. Yakni tokoh bernama Bakri, yang mana jika tanggal, bulan, dan tahun kelahirannya dikonversi ke masehi bertepatan dengan tanggal 10 Februari 1943 Masehi/4 Sapar 1874 Jim Akhir. Meski begitu, informasi yang akurat belum bisa dipastikan siapa, kapan, dan di mana manuskrip ini ditulis. Terdapat juga frasa “Tahun Walandi” dan “Tahun Sanga Wêlas”. Di mana penyebutan Masehi pada zaman dahulu, masyarakat Jawa menyebutnya dengan istilah “Tahun Walandi”, karena sistem kalender masehi dibawa dan digunakan pada era Pemerintahan Belanda. Sedangkan frasa “Tahun Sanga Wêlas” diperkirakan merujuk pada Tahun Sembilan Belas (19). Dalam konteks penulisan abad atau tahun Masehi, angka Sanga Wêlas merujuk pada angka depan abadnya.


Oleh karena itu, penemuan manuskrip di Pondok Pesantren Bustanul Makmur Kebunrejo Genteng menegaskan bahwa pondok sebagai pusat jaringan intelektual dan sanad keilmuan, bukti tradisi literasi yang kuat, jejak jejak akulturasi budaya dan bahasa, juga tempat bertumbuhnya varian keilmuan yang semakin berkembang. Tidak heran jika demikian, karena Pondok Pesantren Bustanul Makmur Kebunrejo Genteng sendiri termasuk salah satu pondok pesantren tua di Banyuwangi yang didirikan pada tanggal 1 September 1947 M.  

 

Referensi

 

Hanafi, Ahmad. 2022. “Pelestarian dan Konservasi Delapan Naskah Keislaman”. Moderasi: Jurnal Kajian Islam. 2, 2 (Desember 2022), 160-207. DOI:https://doi.org/10.54471/moderasi.v2i2.31. 

 

Haedari, Amin, dkk. Panorama Pesantren Dalam Cakrawala Modern. Jakarta: Diva Pustaka, 2004.
Bagikan tulisan ini:

Diskusi

0

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berkomentar!