Stigma gender mengenai perempuan yang menyebutkan bahwa kodrat perempuan selalu berkutat dalam ranah domestik (di dapur, sumur, dan di kasur) belaka. Namun, di masa dulu banyak sosok perempuan baik itu ratu, putri, bahkan panglima perang yang memudarkan anggapan bahwa perempuan tidak bisa memimpin perang bahkan bernegosiasi. Justru ternyata sebaliknya, kepemimpinan perempuan dalam peperangan terkadang dipandangan sebagai kombinasi yang pas antara kecerdasan diplomasi, perpaduan spiritualitas dengan taktik gerilya, sehingga dapat mendobrak norma maskulinitas. Banyak tokoh-tokoh nasional maupun lokal yang memimpin langsung di gelanggang pertempuran demi menjaga harkat dan martabat wilayahnya.
Dari kisah anak-anak Mas Tanpa Una yang juga diabadikan dalam Babad Blambangan (BR. 384) itu, kita menemukan tiga perempuan yang memiliki peran penting dalam Kerajaan Kedhawung (Blambangan). Fakta sejarah mengatakan bahwa seorang perempuan tidak hanya tentang “macak, masak, manak”. Di ujung timur Jawa, ternyata perempuan pernah menduduki tampuk kepemimpinan. Bahkan, bagaimana seorang perempuan memegang komando perang. Kita dapat melihat bagaimana perempuan menjadi Patih dan Panglima perang (Mas Ayu Tunjung Sekar) serta memimpin suatu kerajaan (Mas Ayu Melok dan Mas Ayu Gringsing) di Blambangan.
Saat kita membaca kisah sumir tentang dinamika yang terjadi di Kerajaan Kedhawung (Blambangan) itu, segera kita akan melihat “posisi” dan “peran” yang dimainkan seorang perempuan. Sehingga, dalam pembacaan saya, mereka meninggalkan warisan (legacy) yang perlu kita jaga bersama sebagai generasi setelahnya. Sesuatu yang mereka wariskan kepada kita bukan harta, jimat, dan ajian-ajian tertentu. Melampaui semua itu, mereka telah meninggalkan spirit dan nilai yang perlu kita lanjutkan. Dan, spirit dan nilai itu dapat menjadi faktor pendorong untuk generasi kita, terutama kaum perempuan. Menurut saya, setidaknya ada dua legacy yang perlu kita jadikan bahan refleksi.
Pertama, keberanian. Salah satu spirit yang sangat perlu kita teladani dari perempuan yang dikisahkan dalam Babad Tawangalun itu adalah “keberanian”. Hal ini dapat kita lihat dari sosok Mas Ayu Tunjung Sekar, seorang Patih Kerajaan Kedhawung (Blambangan) dan sempat menjadi panglima perang. Ia adalah orang yang memimpin ribuan prajurit untuk ngluruk (menyerang) Bayu. Keberanian Mas Ayu Tunjung Sekar memperlihatkan kepada kita, bagaimana seorang perempuan yang selama ini dikonstruksi secara sosial oleh masyarakat sebagai konco wingking atau the second sex, seolah-olah didekonstruksi.
Sebaliknya, perempuan justru berada di barisan paling depan dalam sebuah pertempuran. Dan dengan tekad yang kuat, ia harus gugur di medan perang. Demikian menunjukkan bahwa perempuan, sebagaimana laki-laki, mampu memimpin dan mengatur strategi perang. Bahkan, ia dengan berani menuntaskan perang sampai titik darah penghabisan. Mas Ayu Tunjung Sekar, terlepas dari keberpihakannya, adalah sosok perempuan yang berani menghadapi risiko atas apa yang ia pilih. Dalam konteks sejarah “perang saudara” itu, Sang Patih, memilih mengikuti perintah Raja Kedhawung, Mas Wila, untuk menyerang Bayu. Kendati ia harus gugur di medan pertempuran. Sebagaimana kata Pram, sastrawan Indonesia, dalam novel Larasati (2003): “Kalau mati dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.”
Keberanian inilah yang harus kita teladani dari sosok Mas Ayu Tunjung Sekar. Ia berani menanggung segala risiko yang dihadapi. Sebenarnya ia bisa saja lari tunggang-langgang seperti prajurit lain. Tapi, ia bukan seorang pecundang. Ia tetap memilih berada di garis depan, meski nyawa taruhannya. Demikian juga kita. Hidup, sebenarnya bagaikan perang tanpa akhir. Kita adalah panglima sekaligus prajurit bagi diri kita sendiri. Segala sifat iri, nafsu, kelicikan, dan sifat-sifat tercela yang lain harus kita lawan sampai titik penghabisan. Semampu kita. Sekuat kita. Dan seluruh masalah yang ada, benar-benar harus kita hadapi. Ya, dengan berani. Bukan lari sebagai seorang pecundang yang akan tertulis di dalam memori sejarah kita.
Kedua, kepemimpinan (leadership). Nilai yang tak kalah penting dari kisah “perempuan Blambangan” itu ialah kepemimpinan. Kendali suatu kerajaan dipegang oleh dua perempuan sekaligus: Mas Ayu Melok (Pangeran Prabu) dan Mas Ayu Gringsing (Patih). Kalau kita membaca sepintas kisah itu, tentu seakan-akan mereka berdua hanya menjadi “pengganti” atau karena tidak ada pilihan lain. Akan tetapi, kendati demikian, toh pilihan ada pada mereka. Antara menerima atau menolak tahta Kerajaan Kedhawung. Oleh karena itu, bagaimanapun, menjadi Raja Kedhawung dan Patih, adalah keputusan yang tidak kecil. Dan mereka berdua bersedia memilih jabatan itu dengan menerima segala konsekuensi yang ada.
Hal tersebut perlu kita baca sebagai suatu sikap yang memiliki nilai tinggi. Setidaknya ada dua pelajaran yang terkandung dalam jiwa kepemimpinan Mas Ayu Melok dan Mas Ayu Gringsing: pertama, tidak haus kekuasaan dan kedua, bertanggung jawab. Dengan kecakapan yang dimiliki, kedua perempuan berdarah biru itu mampu memimpin Kerajaan Kedhawung selama dua tahun (rong tahun kawarna). Demikian mereka lakukan dengan penuh rasa tanggung jawab, sebab menjadi Raja Kedhawung dan Patih, adalah jabatan politik yang tidak gemen-gemen. Dan penting untuk dicatat, bahwa tidak haus kekuasaan adalah salah satu faktor pendorong terwujudnya kesejahteraan dalam kehidupan sosial sebagaimana yang dilakukan Mas Tawangalun dan Mas Ayu Melok.
Referensi
Arifin, Winarsih Partaningrat, Babad Blambangan. Yogyakarta: Bentang Pustaka, 1995.
Babad Blambangan (BR. 384). Alih aksara: Wiwin Indiarti & Adi Deswijaya. Jakarta: Perpusnas Press, 2022.
Babad Tawangalun: Wiracarita Blambangan dalam Rangkaian Tembang. Alih bahasa: Wiwin Indriarti, Suhalik, dan Anasrullah. Jakarta: Perpusna Press, 2019.
Margana, Sri, Ujung Timur Jawa 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan. Yogyakarta: Pustaka Ifada, 2012.
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berkomentar!