Pondok Pesantren (PP) Bustanul Makmur Kebunrejo Genteng Banyuwangi menggelar Launching dan Bedah Buku "Tanbihun Nahdliyyin: Peringatan Bagi Warga Nahdlatul Ulama" di Gedung Aula PP. Bustanul Makmur Kebunrejo Genteng pada Kamis (28/5).
Pesantren merupakan sebuah lembaga yang hingga saat ini masih menjalankan khazanah tradisi literasi ulama-ulama terdahulu dengan menulis dan menyalin kitab kuning. Praktik itu masih dilakukan saat ini oleh santri ketika sorogan atau bandongan kepada kiai dan para asatid dengan cara “nyasaki” atau memberi makna beraksara pegon dengan bahasa Jawa, Sunda, Madura dan Melayu dalam berbagai disiplin ilmu. Hal itulah yang membakar ghirah alumni PP. Bustanul Makmur Kebunrejo dan beberapa pengurus menginisiasi penerjemahan Kitab Tanbihun Nahdliyyin kembali.
Tim yang beranggotakan sembilan orang ini, yakni: M. Roqy Azmi, Ahmad Ubaidillah, Bagus Muhammad Ilham, Faidul Anwar, Faisal Akbar, Moh. Rois Afandi, Ahmad Mustanir, Akbar Maulana Ilman, Muhammad Yusuf Khoirul Wafa. Tim yang diketuai Roqy Azmi ini menerjemahkan Kitab Tanbihun Nahdliyyin dari kitab aslinya yang bertulisakan aksara pegon berbahasa Jawa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut Tim Penerjemah mendatangkan Founder Komunitas Pegon dan Pegiat Sejarah NU Banyuwangi, Barur Rohim atau akrab disapa Ayung Notonegoro sebagai narasumber pertama dan narasumber kedua, Agus Muhammad Imdad, M.Fil. yang merupakan dzuriyah PP. Bustanul Makmur sekaligus Pengurus Harian Pusat PP. Bustanul Makmur.
Kegiatan Launching dan bedah buku ini dihadiri oleh para santri putra, santri putri, pengurus dan para alumni PP. Bustanul Makmur.
Ketua Pengurus Harian Putra PP. Bustanul Makmur, Ust. Ahmad Imam Syahroni dalam sambutannya sangat mengapresiasi usaha dari Tim Penerjemah yang dipromotori oleh Roqy Azmi. Ust. Syahroni juga berharap dengan adanya kegiatan ini dapat menjadi stimulus bagi santri-santri agar giat dalam berliterasi dan menjaga tradisi lama yang sudah dijalankan di persantren.
“Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa buku 'Tanbihun Nahdliyyin' ini juga merupakan satu mutiara peninggalan dari almarhum KH Imam Zarkasyi Djunaidi (guru kita semua). Maka sudah sepantasnya bagi santrinya minimal untuk memilikinya dan alangkah baik membacanya juga memahaminya,” kata Ust. Syahroni.
Kitab Tanbihun Nahdliyyin sendiri merupakan kitab yang disusun oleh Kiai Ahmad Suyuti yang ditashihkan kepada KH. Imam Zarkasyi Djunaidi selaku Rois Syuriah PCNU Kabupaten Banyuwangi dan KH. Muhammad Muyassir Munawi yang diterbitkan oleh penerbit Al-Alawiyyah di Semarang pada tahun 1996. Kitab ini memuat sejarah NU dan masalah-masalah sosial yang berkembang di masyarakat pada waktu itu.
Dalam perjalanan menerjemahkan Kitab Tanbihun Nahdliyyin, Tim Penerjemah menemukan sebuah petite histoire (sejarah kecil) yang sering kali misinformasi dari sosok penyusun Kitab Tanbihu Nahdliyyin itu sendiri. Kiai Ahmad Suyuti ternyata berasal dari Semarang Jawa Tengah. Beliau merupakan teman KH. Imam Zarkasyi Djunaidi semasa bersama-sama nyantri di Lasem. Pada tahun 1996, tahun yang sama dengan diterbitkannya kitab ini, Kiai Ahmad Suyuti berinisiatif menulis tentang ke-NU-an dan dari situ lahirlah sebuah kitab yang diberi judul "Tanbihun Nahdliyyin", yang akhirnya beliau meminta restu dan ditashihkan kepada KH. Imam Zarkasyi Djunaidi dan KH. Muhammad Muyassir Munawi. Tidak hanya sebagai mushahih, KH. Imam Zarkasyi Djunaidi juga menyelipkan sebuah ijazah Sholawat Qur'an "Basyairul Khairot" yang diperolehnya dari Kiai Abdul Mannan Kendal Jawa Tengah dan KH. Imam Zarkasyi Djunaidi juga memberikan kata sambutan selaku Rois Syuriah PCNU Kabupaten Banyuwangi bersama KH. Imron Hamzah selaku Rois Syuriah PWNU Jawa Timur.
Ketua Tim Penerjemah, M. Roqy Azmi yang juga promotor kegiatan tersebut. Dalam sambutannya Roqy Azmi menyampaikan sangat terima kasih dan mengapresiasi kerja keras selama kurang lebih dua tahun masa penerjemahan kepada teman-teman tim dan pengurus PP. Bustanul Makmur yang ikut terlibat dalam penerjemahan. Roqy Azmi juga berterima kasih kepada PP. Bustanul Makmur yang telah mensupport dan memfasilitasi dalam kegiatan launching dan bedah buku tersebut.
“Selain privilege, menjadi santri juga memikul tanggung jawab besar. Kelak sampeyanlah (santri) yang akan menjadi mutiara sekaligus pionir-pionir yang memimpin keberlanjutan ilmu agama Islam di rumah bahkan di lingkungan masyarakat tempat tinggal masing-masing,” terangnya.
Ayung Notonegoro, pegiat sejarah NU Banyuwangi, sebagai narasumber pertama sangat mengapresiasi usaha-usaha dari Tim Penerjemah untuk menghadirkan kembali Kitab Tanbihun Nahdliyyin.
“Saya kira pengantar awal dari saya terkait dengan kitab Tanbihun Nahdiyin ini. Satu ikhtiar yang sangat mulia dari rekan-rekan sekalian. Tim Penerjemah dari PP. Bustanul Makmur telah menerjemahkan satu milestone (tonggak sejarah), satu pusaka literasi NU Banyuwangi ini agar bisa dibaca lebih luas, agar bisa diakses oleh generasi hari ini, terutama generasi santri saat ini agar bisa mewariskan kembali pengetahuan-pengetahuan dari para sesepuh-sesepuh kita, dari para pendahulu-pendahulu kita,” terang Ayung Notonegoro.
Sedangkan Agus Muhammad Imdad, narasumber kedua dalam launching dan bedah buku menjelaskan Kitab Tanbihun Nahdliyyin ini merupakan kitab yang berisi keilmuan dan argumentasi amaliyah NU mengenai permasalahan di masyarakat.
“Kalau mau diambil satu kalimat ya, kesimpulannya ber-NU itu Amaliah-Ilmiah ya Ilmiah-Amaliah. Jadi buku ini (Tanbihun Nahdliyyin) memuat berbagai macam bab dari sejarah NU hingga hujah-hujah, dalil-dalil tentang kegiatan amaliah NU seperti tahlilan, penambahan kata sayyidina dan manaqib,” jelas Agus Muhammad Imdad.
Tidak hanya masalah amaliyah NU saja, Kitab Tanbihun Nahdliyyin juga memuat masalah yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari seperti Asuransi, Keluarga Berencana bahkan Bunuh Diri.
"Di dalam buku ini juga (Tanbihun Nahdliyyin) ada beberapa hal yang isinya agak polemik. Contohnya seperti Asuransi, Keluarga Berencana (KB) bahkan ada penjelasan Bunuh Diri. Nah, kalau ada tahqiq nanti sampean (Tim Penerjemah) bisa menjelaskan dengan mencari konteksnya agar relevan dengan zaman sekarang," tambah Gus Imdad.
Gus Imdad juga mengingatkan kepada semua santri bahwa Kitab Tanbihun Nahdliyyin harus menjadi tanda alarm atau peringatan bagi kita untuk membangkitkan kesadaran dalam melakukan perjuangan, baik perjuangan secara fisik (jihad), intelektual (ijtihad), maupun spiritual (mujahadah).
"Setelah membaca buku Tanbihun Nahdliyyin kalian mau bagaimana? Karena buku ini peringatan. Tanbih itu alarm, alarm peringatan. Perjuangan NU itu berada dalam tiga ranah, yakni: Jihad , Ijtihad , dan Mujahadah . Nah, setelah membaca buku ini (Tanbih Nahdliyyin) sampai semua harus punya kesadaran untuk berjuang sesuai dengan kemampuan masing-masing," pungkas Gus Imdad.
Tidak lupa Kedua narasumber juga memberikan catatan-catatan kepada Tim Penerjemah agar nantinya dalam penerjemahan tidak hanya mengalih bahasakan saja, namun perlu adanya tahqiq (verifikasi) terhadap beberapa hal seperti narasi sejarah NU dan pengambilan referensi (dalil-dalil) hukum yang tidak dijelaskan secara detail.
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berkomentar!