Perempuan adalah tiang negara, Perempuan adalah ibu peradaban, dan Perempuan adalah sekolah pertama bagi generasi selanjutnya. Kalimat-kalimat semacam ini sebenarnya ingin menunjukkan kepada kita, bagaimana seorang perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan kita. Tidak peduli latar belakang perempuan itu. Mau dia Islam, Hindu, Budha, Konghucu atau Kristen, dari Jawa atau Banjar, lahir di kalangan orang kaya atau miskin, tidak jadi soal. Sebab, yang paling penting adalah kualitas perempuan itu. Maka tak ayal, jika sosok perempuan akan selalu “hadir” dalam perjalanan sebuah peradaban dunia.
Tokoh perempuan seperti RA Kartini, Cut Nyak Dien, Siti Soendari, Dewi Sartika, dan lain sebagainya terbukti memberikan kontribusi besar dalam sejarah Tanah Air. Bahkan, saat membaca butir-butir pemikiran dan jejak langkah pergerakan mereka, kita akan menemukan sudut pandang yang khas dari seorang perempuan. Keberanian mereka dalam menggugat dominasi kekuasaan, menurut saya, mampu disejajarkan dengan aktivisme-intelektual perempuan Barat. Cara berpikir (way of thinking) perempuan kita dalam memahami realitas kehidupan yang memiliki keunikan tersendiri, jika dibandingkan dengan tokoh feminis Barat, misalnya.
Hal itu bisa kita telisik dari catatan-catatan sejarah lokal, seperti serat dan babad. Di ujung timur Jawa, dulu ada sebuah kerajaan yang mempunyai tokoh-tokoh perempuan dengan kualitas nomor wahid. Kerajaan itu bernama Blambangan. Dalam sejarah pemberontakan rakyat Blambangan kepada Kompeni VOC, ada seorang perempuan digdaya yang dijuluki The Queen Emperor of Mount Raung yakni Sayu Wiwit. Ia adalah seorang martir perempuan yang berada di barisan Mas Rempeg Jagapati dalam Perang Puputan Bayu pada 1771-1773. Gerakan ini kala itu meluas di berbagai daerah Blambangan, dan Sayu Wiwit menjadi komandan pasukan pemberontakan yang dipimpin oleh Bekel Gagak Baneng di Desa Sentong. Namun akhirnya, gerakan rakyat Blambangan dapat dilumpuhkan oleh Kompeni setelah kematian Rempeg Jagapati. Dan Sayu Wiwit kemudian ditangkap oleh Kompeni dalam sebuah patroli di Gunung Raung pada Januari 1773 (Margana, 2012: 176).
Selama ini, memang Sayu Wiwit menjadi sosok representatif perempuan Blambangan. Ketika gerakan perempuan, nama Susuhunan Ratu Gunung Raung itu akan selalu disebutkan pertama kali. Hanya saja, untuk mengatakan bahwa Sayu Wiwit adalah “satu-satunya” tokoh perempuan yang patut dijadikan inspirasi kaum perempuan saat ini, saya kira tidak tepat. Sebab, kalau kita membaca Babad Tawangalun, ada nama-nama perempuan yang juga banyak sekali pendar-pendar kebijaksanaan yang ia tinggalkan untuk kehidupan kita saat ini, esok, dan di masa yang akan datang.
Perempuan dalam Babad Tawangalun: Dari Panglima Hingga Raja dan Patih
Salah satu catatan sejarah lokal yang menyebutkan potret seorang perempuan dengan peran yang cukup penting dalam Kerajaan Blambangan Babad Tawangalun. Dalam babad ini, penulis menyebutkan pembuatannya pada hari Minggu, tanggal 13 (tiga welas), bulan Dzulhijah (Dul Haji), dan pada tahun dal papat jim telu. Terdapat dua versi mengenai tahun pembuatan Babad Tawangalun ini. Menurut J. Brandes (1920), Babad Tawangalun (BT) disusun pada tahun 1832-1841 M. Sementara menurut Arifin (1995), maksud dari tulisan dal papat jim telu itu menunjuk pada tahun 1827-1828 M (Arifin, 1995: 11). Secara umum, BT merupakan catatan lokal yang mengisahkan nenek moyang keluarga para Raja Blambangan dan dinamika yang terjadi di Kerajaan Blambangan dengan ragam tembang.
Di dalam BT, kita akan menemukan nama-nama perempuan yang tidak memosisikan diri sebagai konco wingking. Justru, keberadaan perempuan “darah biru” itu memiliki peran penting dalam perjalanan Kerajaan Blambangan. Mereka adalah Mas Ayu Tunjung Sekar, Mas Ayu Melok, dan Mas Ayu Gringsing. Perempuan ketiga ini adalah putri dari pendiri Kerajaan Kedawung (Blambangan), Mas Tanpa Una. Hal ini disebutkan dalam BT ( Pupuh Kasmaran : 3-4 ):
[3] wonten kang pinurweng kawi/Mas Tanpa Una kocapa/akarya negara mangke/Kedhawung kang wistanastanan/kocapa sampun putra/kakalih jalu puniku/kang istri mangke tetiga. [4] hingkang sepuh parabneki/Mas Tawangalun namanya/hingkang penggulunira mangke/Mas Wila parabira/kang estri Mas Ayu Tunjung Sekar/Mas Ayu Melok puniku/Mas Ayu Gringsing Ratna.
Terjemahan bebas:
Tersebutlah kisah negeri Kedhawung, (sebuah) kerajaan yang didirikan oleh Mas Tanpa Una. Ia memiliki dua orang putra, yaitu Mas Tawangalun dan Mas Wila. Dan tiga putri, yakni Mas Ayu Tunjung Sekar, Mas Ayu Melok, dan Mas Ayu Gringsing Ratna.
Kemudian, setelah Mas Tanpa Una meninggal dunia, tahta Kerajaan Kedhawung diserahkan kepada putra sulung, Mas Tawangalun. Sementara anak kedua, Mas Wila, menjadi Patih. Selama empat tahun Tawangalun Raja Kedhawung. Namun, di saat ia memimpin, terdengar desas-desus fitnah (hanulya ana pitenah) tentang kepemimpinannya. Oleh karena itu, Mas Tawangalun memberikan “mahkota” kekuasaan Kerajaan Kedhawung (Blambangan) kepada sang adik, Mas Wila. Sedangkan jabatan Patih diberikan kepada Mas Ayu Tunjung Sekar (ia juga dipanggil: Mas Ayu Tunjungsari). Karena tidak lagi menduduki singgasana kerajaan, akhirnya Mas Tawangalun memutuskan untuk menepi dan membuka pemukiman baru ke Bayu dengan membawa empat puluh orang Kedhawung.
tuntutan Mas Tawangalun kepada Mas Wila untuk menggantikan dirinya sebagai Raja Kedhawung, dan Mas Tunjung Sekar sebagai Patih serta meminta empat puluh rakyat Kedhawung untuk membantu membuka pemukiman di Bayu yang ditulis dalam BT ( Pupuh Kasmaran: 8-10 ), sebagai berikut:
[8] tega karo sira yayi/amung kalih sudarma priya/sahingga peranga dene/dulur kalih amung sira/hanggentenana nata/jumneng pangeran ariningsun/wonten ing Kedhawung negara. [9] ana dene ingkang rayi/ Mas Ayu Tunjungsekar/karyanen pepatih mangko/ana dene raganingwang/sumedya maring wana/karsa ingwang adhudhukuh/hing wana Bayu punika. [10] amung kang sun tedha yayi/wongira bagehana/wong kawandasa kathahe/ana kakang gawe rewang/rehne wongira kathah/mila amba ayun-ayun/kang rayi atur sendika.
Terjemahan bebas:
Adikku, sampai mengingatkan diriku sendiri, (karena) dalam saudara hanya ada dua laki-laki, sehingga harus berbagi (kekuasaan) ini bersamamu. Gantikanlah aku sebagai raja di Kerajaan Kedhawung. Sementara jadikanlah Mas Ayu Tunjung Sekar sebagai Patih. Dan, aku akan pergi ke hutan Bayu untuk membuka pemukiman. Hanya saja aku meminta (padamu), berikanlah aku empat puluh orang-orangmu untuk membantuku (di sana).
Selang beberapa saat Mas Tawangalun menetap di Bayu, wilayah yang berada di tepian hutan itu berubah menjadi daerah yang makmur, sejahtera, dan memiliki ribuan orang. Dan hal itu membuat rakyat Kedhawung yang berada di bawah kekuasaan Mas Wila berbondong-bondong menuju ke Bayu. Mendengar kabar bahwa banyaknya rakyat Kedhawung bermigrasi ke Bayu, membuat Mas Wila merasa iri dan murka.
Alkisah, terjadi sebuah “perang saudara” yang disebabkan atas dasar iri seorang Raja Kedhawung, Mas Wila, terhadap Mas Tawangalun. Ia mengirim empat ribu prajurit bala di bawah Mas Ayu Tunjung Sekar sebagai panglima perang. Penyerangan ke Bayu juga diikuti oleh anak Mas Wila yang bernama: Wilatruna. Perang itu akhirnya membuat pihak Mas Wila kalah, dan meregang nyawa Sang Patih dan Wilatruna. Tragedi peperangan itu dijelaskan dalam BT (Pupuh Durma: 7-9):
[7] tan kawarna lampahira sampun prapta/dhukuh Bayu sira nuli/sumbar-sumbar minta lawan/eh wong Bayu metonana/payo tandhing lawan mami/wong Bayu mirsa/dukanira tan sipi. [8] anulya campuh yudane wadya bala/wong Kedhawung nenggih lawan wong Bayu ika/langkung ramene yuda/surake awanti-wanti/tumbak-tinumbak/bedhil-binedhil sami. [9] Pangeran Pati yudane sampun kasoran/tan ana mangga pulih/sangunge bala wadya/sing mara-mara pejah/Pangeran Pati kajodhi/sarta putranira/Wilatruna ngemasi.
Terjemahan bebas:
Para pasukan Kedhawung beriring-iringan dan setibanya di Bayu, mereka berteriak menantang perang kepada orang Bayu: "keluarlah! Ayo berperang melawan kami". Mengetahui hal itu, orang Bayu menjadi marah. Dan berkecamuklah pertempuran antara pasukan Kedhawung dan Bayu. Pertempuran terjadi secara intens. Gemuruh dan sorak-sorai pertempuran bersahutan, saling beradu tombak, dan tembak-menembak. Namun pada akhirnya pihak Kedhawung kalah. Satu per satu pasukan dikalahkan oleh orang Bayu. Sang Patih, Mas Ayu Tunjung Sekar, dan Wilatruna gugur di medan perang.
Mengetahui bahwa adik perempuan, anak, dan pasukan Kedhawung banyak yang gugur, akhirnya Mas Wila dipindahkan menuju medan perang. Pertempuran kembali berlangsung. Hanya saja, ngluruk yang dilakukan Raja Kedhawung itu tetap tidak bisa meruntuhkan perlindungan orang Bayu. Dan pertempuran itu akhirnya meregang nyawa Mas Wila. Kemudian, sisa-sisa pasukan Kedhawung lari tunggang-langgang untuk menyelamatkan diri.
Setelah perang yang merenggut nyawa Mas Wila dan seorang Patih perempuan, Mas Tunjung Sekar, akhirnya tahta Kerajaan Kedhawung (Blambangan) dipegang oleh Mas Ayu Melok. Sedangkan Mas Ayu Gringsing menduduki posisi Patih. Demikian diabadikan dalam BT (Pupuh Durma: 12-13) sebagai berikut:
[12] tan kawarna lamine yen banda yuda/ sedanira kang rayi/rong tahun kawarna/rayi kalih wanudya/hingkang jumeneng aji/Mas Ayu Melok/Pengeran Prabu mangkin. [13] Mas Ayu Gringsing jumeneng sira patiya/nora langkung kang negari/Kedhawung punika/tan kocapa denira/gantiya hingkang winarni/hing Bayu kocapa/Mas Tawangalun Gusti.
Terjemahan bebas:
Setelah Kedhawung kalah perang, kemudian diangkatlah kedua saudara perempuan Tawangalun untuk memegang kekuasaan. Mas Ayu Melok menjadi Raja Kedhawung dengan gelar Pangeran Prabu, sedangkan Mas Ayu Gringsing diangkat menjadi Patih. Kedua saudara perempuan Mas Tawangalun dan Mas Wila itu memimpin Kerajaan Kedhawung dua bulan lamanya. Dan setelah peristiwa ini, tak terdengar lagi cerita mengenai negeri Kedhawung.
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berkomentar!