Pendongeng (bacanya Penulis, Red) adalah orang Banyuwangi (asli), lahir di sana, besar di sana, dan sepertinya akan mati dan dikuburkan di sana. Sempat beberapa hari lalu Tuhan mengirimkan sesuatu dipikiranku. Sayang dan sialnya bukan wahyu bukan juga ilham, tapi pertanyaan!. Ya, lagi-lagi hal tersebut yang mendorong saya untuk mencari dan membaca “tetek-bengek” seperti ini. Sebenarnya pertanyaannya banyak dan kompleks, tapi singkatnya begini: “Siapa kamu, sejauh mana kamu paham tentang suku asli yang di mana kamu dilahirkan dan juga kamu berasal dari sana?”.
Baik, perlu diketahui bahwa sependek saya tinggal di luar Banyuwangi untuk jalan-jalan dan belajar pastinya, hampir setiap orang yang saya temui ternyata tidak tahu, bahwa di ujung timur Pulau Jawa, tersembunyi sebuah komunitas dengan identitas yang unik, Suku Osing atau Using. Memang tidak terkenal, tapi kendati demikian semoga dengan tulisan ini saya khususnya, dan seseorang atau pembaca minimal tahu. Ya itu saja. (Itu pun kalau tulisan ini dibaca).
Singkat saja. Suku Osing atau Using. Mereka bukan sekadar penduduk asli Banyuwangi, tetapi juga pewaris Kerajaan Blambangan yakni kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa yang gigih mempertahankan diri dari gempuran pelbagai kekuatan asing selama berabad-abad. Namun, sebelumnya yang akan saya bahas dari suku ini bukan hanya sejarah panjang, melainkan makna dibalik nama suku mereka sendiri: "Osing atau Using" (Perihal yang lain bisa teman-teman cari sendiri).
Satu: "Osing atau Using", Kata Kecil dengan Makna Besar.
Ya, dalam bahasa Osing, kata "Using" atau "Osing" berarti "tidak" . Makna sederhana ini menyimpan filosofi mendalam tentang identitas dan perlawanan yang sempat berkecambuk di sana, dan sepertinya sampai sekarang. Konon, nama ini diberikan oleh penduduk pendatang yang menetap di Banyuwangi pada abad ke-19, merujuk pada sikap masyarakat asli yang sering menunjukkan penolakan terhadap pengaruh luar.
Sebuah anekdot yang saya dapati, mengisahkan tentang seorang musafir asing yang singgah di Banyuwangi. Saat melihat penduduk setempat dengan ciri fisik mirip Jawa namun budaya yang agak berbeda, ia bertanya, "Apakah kalian orang Jawa atau orang Bali?" dengan tegas penduduk setempat menjawab, "Using!" yang berarti "Bukan!", sebuah pernyataan identitas yang lugas: “Kami Bukan Jawa, Juga Bukan Bali”.
Dua: Persimpangan Antara Bukan Jawa, Bukan Bali.
Pernyataan “Osing” ini bukan tanpa alasan. Secara geografis, mereka berada di ujung Jawa, berseberangan dengan Bali. Secara historis, mereka memiliki kedekatan dengan kedua budaya besar tersebut. Namun melalui satu kata “Osing”, mereka menegaskan diri sebagai entitas yang “Berdikari” berdiri sendiri. Ya, kendati sikap seperti ini kadang tidak disukai beberapa orang, tapi ini penting!.
Bukan Jawa, ya dalam sejarahnya, Kerajaan Mataram Islam tidak pernah berhasil menancapkan kekuasaan secara kultural atas Kerajaan Blambangan. Akibatnya, kebudayaan masyarakat Osing memiliki perbedaan yang signifikan dibandingkan Suku Jawa. Bahasa Osing sendiri bukan dialek dari bahasa Jawa, melainkan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuno, khusus dalam hal ini sama seperti latar belakang Bahasa Bali, tapi bukan Bali!.
Bukan Bali, meskipun secara geografis, politik dan budaya, Blambangan pernah hidup berdampingan dan sampai sekarang berdampingan dengan Bali, masyarakat Osing tetap mempertahankan identitas mereka. Berbeda dengan Bali yang mengenal sistem kasta, Suku Osing tidak mengenal stratifikasi sosial semacam itu. Pengaruh kuat Islam yang kemudian dianut mayoritas penduduknya juga membedakan mereka dari kerabatnya di seberang selat sana.
Tiga: Suku Osing Pewaris Majapahit yang Tak Pernah Takluk.
Ketika Majapahit runtuh sekitar tahun 1478 M, saya mendapati para penduduk dan pendukung setianya mengungsi ke tiga tempat yakni: Gunung Bromo (Tengger), Bali, dan Blambangan (Osing). Di Blambangan inilah mereka membangun kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa yang bertahan kurang lebih dua abad.
Singkatnya sampai pada kedamaian yang terusik oleh ekspansi Mataram, invasi Bali, dan akhirnya kedatangan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Ya, puncak perlawanan dan sikap muak atas gangguan itu adalah Perang Puputan Bayu (1771-1772). Di bawah pimpinan Pangeran Jagapati, rakyat Blambangan melakukan perlawanan habis-habisan (puputan) melawan kebijakan kejam Belanda: tanam paksa, kerja paksa, dan kekerasan terhadap perempuan. Ya, perlawanan dan perjuangan semacam ini, meski sudah mulai dikenal dan terkenal di kalangan orang Banyuwangi, namun tidak semua pembaca bisa dan baik dalam mewarisi sikap serta semangat perlawanan tersebut, kecuali sedikit sekali. Dan kelompok sedikit inilah yang menjadi cikal-bakal Suku Osing (dari kata "Using" yang artinya "tidak"), sebagai penegasan identitas: bukan Jawa, juga bukan Bali, melainkan pewaris Blambangan yang tetap memegang teguh tradisi dan semangat puputan hingga kini.
Terakhir: Dari Perlawanan Menjadi Kebanggaan.
Alhamdulillah, akhirnya. Di sana dari kata "Using", bisa kita ambil pelajaran dan akan mengajarkan kita bahwa identitas tidak selalu harus memilih salah satu. Menjadi "Using" berarti berada di persimpangan, di tepi jurang, tetapi justru dari posisi itulah lahir kekuatan untuk mendefinisikan diri sendiri, serta menerjemahkan dan menggali makna sendiri. Mereka bukan Jawa, juga bukan Bali, bukan ke sana juga bukan ke sini. Mereka adalah pewaris Blambangan, darah keturunan para pejuang yang sampai sekarang selalu dan akan rela berkorban demi tanah kelahirannya.
Mengingat di tengah arus globalisasi yang semakin deras, cepat, kompleks, tidak karuan, dan gila ini, semangat “Using” ini sangat penting dan relevan untuk direnungkan: berani mengatakan “tidak” pada penghapus-leburan identitas, berani mempertahankan apa yang menjadi ciri khas, dan berani menjadi diri sendiri di tengah tekanan untuk menjadi seragam.
Sebagaimana yang saya dapat dari seorang filsuf Banyuwangi (Ya, saya ingin menyebut dia demikian): "Ojo dadi wong hang gyapang keli keneng ombyak, tapi dadio wong hang koyo watu karang hang kukuh, tegar, heng goyah" (Jangan jadi orang yang mudah hanyut ombak, tapi jadilah orang yang seperti karang yang kokoh, tegar, dan tak goyah). Demikian kiranya spirit "Osing-Using" yang diwariskan serta harus diwarisi generasi Blambangan saat ini sebagai pemegang tongkat estafet tanggungjawab dan sebagai generasi penerus pendahulunya, Tamat!.
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berkomentar!