Banyaknya adat istiadat yang ada di Nusantara menjadikan Indonesia dikenal dengan negara berjuta budaya. Akulturasi budaya Hindu, Budha, Cina, dan masih banyak lagi yang membaur dibeberapa daerah membuat budaya baru yang tidak mengilangkan identitas nilai budaya aslinya. Sebagaimana di Banyuwangi, wilayah ujung timur pulau Jawa ini, mempunyai tradisi unik untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad Saw. pada bulan Rabiul Awal atau orang Indonesia lebih familiyar dengan bulan Mauilid setiap tahunnya. Dikenal dengan "Tradisi Muludan" atau "Endog-endogan" oleh masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. Tradisi endog-endogan sudah ada di Kabupaten Banyuwangi dan sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu. Tradisi unik ini merupakan salah satu budaya masyarakat Banyuwangi yang tidak ada di tempat lain. Tradisi endog-endogan merupakan acara yang diadakan untuk mengarak bunga telur (kembang endog) yang dilakukan oleh masyarakat Banyuwangi untuk menunjukkan kecintaan terhadap Nabi Muhammad Saw. dan sebagai pertanda budaya gotong royong antar masyarakat Banyuwangi. Endog dalam bahasa Indonesia berarti telur. Telur ayam yang sudah direbus selanjutnya dihias dengan kertas warna warni dan ditancapkan ke sebilah bambu kecil. Nantinya, kembang endog akan ditancapkan ke sebuah jodang yang terbuat dari pohon pisang. Sebelum ditancapkan, pohon pisang dihiasi dengan kertas warna warni untuk menambah kemeriahan acara arak-arakan endog-endogan.
Dikutip dari chanel YouTube Osing creator berikut filosofi telur ayam yang terdiri dari tiga lapisan yaitu kulit telur, putih telur dan kuning telur. Kulit telur (cangkang) diibaratkan sebagai keislaman seseorang atau identitas muslim. Putih telur diibaratkan sebagai keimanan seorang muslim yang suci. Sedangkan kuning telur diibaratkan sebagai keihsanan seorang muslim yang iman. Namun perlu diketahui, tradisi endog-endogan ini tidak dilaksanakan secara serentak pada 12 Rabiul Awal, tapi selama satu bulan. Waktunya bergantian dari tempat satu ke tempat lainnya. Jadi, selama satu bulan Kabupaten Banyuwangi diramaikan dengan beragam pawai endog-endogan.
Cikal bakal tradisi ini karena pembicaraan Syaikhona Kholil Bangkalan kepada murid-muridnya. Syaikhona Kholil mengatakan "Sekarang, kembangnya Islam itu sudah lahir di Nusantara ini berupa sebuah telur, kulit telurnya adalah sebuah perkumpulan, sedangkan isinya adalah amaliyah (pengamalan). Kulit tanpa isi adalah kosong, dan isi tanpa kulit akan berantakan". Perkataan ini diterjemahkan bermacam-macam oleh para muridnya. Salah satu muridnya, RM. Mudasir atau dikenal sebagai KH. Abdullah Faqih yang berasal dari Dusun Cemoro Desa Balak Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi menerjemahkan perkataan ini dengan mengumpulkan telur dan batang pisang, lalu telur tersebut dihias dan ditancapkan ke batang pisang, sekembalinya ia berguru pada Syaikhona Kholil pada tahun 1911.
Bulan Rabbiul Awal atau orang Jawa biasa menyebutnya dengan bulan Maulid. Bulan yang merujuk atas dasar peristiwa besar di dunia, khususnya dalam sejarah agama Islam. Lahirnya seorang yang sangat berpengaruh dalam peradaban dunia, beliaulah Nabi Muhammad Saw. bin Abdullah bin Abdul Muthalib yang lahir pada hari senin tanggal 12 Rabbiul Awal tahun Gajah atau bertepatan pada tanggal 20 April tahun 571 M. Dari peristiwa tersebut dalam tradisi masyarakat di Indonesia khususnya di tanah Jawa banyak sekali tradisi-tardisi yang berkembang sebagai bentuk sambutan peringatan hari lahirnya Baginda Rasulullah Saw. Sebagaimana yang ada di daerah Yogyakarta dengan mengadakan Gerebeg Maulid disetiap bulan Rabbiul Awal. Nah dari keunikan-keunikan cara memeperingati Maulidun Nabi ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya dan akulturasinya.
Begitupun di Bumi Blambangan, di kota yang dijuluki Sunrise of Java ini juga mempunyai cara yang unik, sederhana namun sarat akan makna dalam meperingati Maulid Nabi. Masyarakat Banyuwangi biasanya merakan Maulid Nabi dengan mengadakan arak-arakan Kembang Endhog. Tradisi ini beda dari lainnya dan hanya ada di Banyuwangi, pasalnya masyarakat mengarak keliling kampung jodang atau pohon pisang yang dihiasi kertas warna warni untuk selanjutnya ditancapkan hiasan endhog-endhogan yang sudah direbus sebelumya yang diikatkan pada batang bambu yang sudah dibentuk. Biasanya dalam satu pohon pisang dapat diisi 27 sampai 99 kembang endhog. Kemudian pohon pisang yang sudah dihias selanjutnya diarak keliling kampung, biasanya untuk mengarak masyarakat menggunakan mesin pembajak sawah, sepeda motor, atau ada juga yang dipanggul dengan diiringi musik khas Banyuwangi yakni kuntulan atau patrol.
Setelah diarak keliling kampung, pohon pisang tadi dibawa ke masjid atau musholla. Di sana sebagian para warga melakukan pembacaan serakalan dengan panduan dari kitab Al-Barzanji atau Simthudduror secara bersama-sama. Sementara di luar masjid biasanya panitia ketakmiran menyiapkan kembang endhog dan berkat untuk dibagikan kepada masyarakat. Peringatan Maulid Nabi di suku Osing sendiri diadakan tidak hanya berketapan pada tanggal 12 Rabbiul Awal saja, melainkan satu bulan penuh dan disetiap daerah yang tersebar di 24 kecamatan di Banyuwangi menggelarnya secara bertahap. Seperti pepatah Jawa mengataka “seje deso, mowo coro,” maksudnya tradisi kembang endhog di Banyuwangi dilain desa ada saja perbedaan dalam hal penyugguhan berkat atau cara merakan maulidnya dengan adanya lomba hiasan berbentuk masjid, alat transportasi, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk yang unik guna memeriahkan acara tersebut. Tak jarang juga orang Banyuwangi yang merantau di lain daerah masih mempertahan dan membawa tradisi kembang endhog ini.
Sejarawan lokal Banyuwangi Suhailik mengatakan kembang endhog sendiri sudah eksisis sejak akhir abad ke-18 M. Begitu juga sebuah catatan yang dikutip dari buku yang berjudul Kronik Ulama Banyuwangi karya Ayung Notonegoro yang merupakan Founder Komunitas Pegon, sebuah komunitas yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi dan mempublikasikan khazanah sejarah pesantren dan NU di Banyuwangi. Dalam buku itu dikatakan pencentus awal peringatan Maulid Nabi dengan tradisi kembang endhog ialah tokoh masyarakat yang sangat disegani di daearah Dusun Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon. Ia adalah KH. Abdullah Faqih seorang ulama yang sangat ‘alim, sehingga dengan ke’aliman serta pemahaman ilmu agama yang tidak sebatas dikulitnya saja, namun sampai ke subtansinya, beliau dapat mengaplikasikan nilai-nilai islam dengan kultural budaya sekitar yang ajarannya mudah dipahami dan diterima dengan baik oleh masyarakat suku Osing. Dijelaskan juga dalam buku tersebut jika mengacu pada informasi awal munculnya tradisi ini, maka dapat dipastikan sudah mulai diperkenalkan pada tahun 1911 ke atas. Pasalnya Kiai Abdullah Faqih kembali ke kampung halamannya setelah sekian lama menyantri diberbagai pesantren pada dekade pertengahan abad ke 20. Pada tahun yang sama juga beliau merintis pondok pesantren di Cemoro, meski legalitas kelembagaan baru bisa didapat pada tahun 1917 dari pemerintah Belanda. Dari awal-awal merintis pesantren tersebut mungkin untuk menarik masyarakat sekitar dalam belajar ilmu agama tradisi kembang endhog diciptakan.
Lantas, kenapa harus menggunakan media pohon pisang dan telur yang sudah matang yang diikat dengan bambu yang sudah dibentuk dan dihias? Dalam pemaknaannya sendiri unsur filosofi yang tersirat dari kembang endhog banyak macamnya. Namun filosofi yang paling kuat menurut catatan buku Kronik Ulama Banyuwangi, yakni Kembang Endhog merupakan simbolisasi dari kelahiran Nabi Muhammad Saw. dan juga merupakan esensi dari ajaran agama Islam. Kembang Endhog yang divisualisasikan dengan bambu yang berbunga dan berbuah telur adalah perlambang kelahiran Rasulullah Saw. yang penuh dengan rahmat, yang juga dirasakan oleh semua makhluk di alam semesta ini. Saat lahirnya Rasulullah Saw., Allah Swt. memperlihatkan berbagai irhas (keistimewaan calon Nabi dan Rasul yang diberikan Allah Swt. disaat masih kanak-kanak) sebagai bukti kelahiran seorang yang mulia. Diantara irhas yang ditunjukkan Allah Swt. adalah dengan kembali tumbuhnya pepohonan yang tadinya kering juga dapat berbunga dan berbuah. Sebagaimana kisah yang diceritakan dari lahir hingga wafatnya Nabi Muhammad Saw. yang dikutip dari kitab Maulid Barzanji karya Syekh Ja’far al-Barzanji al-Madani : “Setelah lama gersang, bumi dipakaikan sutra tebal dari tumbuh-tumbuhan. Buah-buah menjadi masak, dan pohon-pohon mendekati orang yang akan memetiknya.”
Dari interpretasi tersebut, lantas Kiai Abdullah Faqih memvisualisasikannya dengan sebilah bambu. Sebagaimana kita ketahui, bambu merupakan jenis tumbuhan yang tidak memiliki bunga dan buah. Maka dimomentum kelahiran Nabi Muhammad Saw. tersebut dihiasi dengan bunga dan buah berupa telur yang mana lambang dari dicurahkan dan diturunkannya rahmat Allah Swt. pada saat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Telur dipilih sebagai simbol buah, juga bukan perihal asal pilih. Selain dari segi pengerjaan dan bahannya yang mudah didapat, ada juga latar belakang filosofis yang mendasarinya. Telur yang sudah matang memiliki tiga lapisan, mulai dari kulit (cangkang), putih telur, sampai kuning telur. Ketiga lapisan itu merupakan inti pokok ajaran dalam agama Islam yakni Islam, Iman, dan Ihsan. Kembang endhog adalah seperangkat aksesoris dekoratif, biasanya berbentuk bunga mawar. Telur hias atau endhog merupakan makanan pokok dari tradisi “Endog-Endhogan” yang biasa diadakan oleh Suku Osing Banyuwangi dan masyarakat lainnya saat merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw.
Sekian ulasan sejarah mengenai tradisi Kembang Endhog yang hanya bisa kita temui di daerah yang dulunya bekas sisa-sisa Kerajaan Hidu terakhir di Jawa yakni Kerajaan Blambangan. Saya kira sudah sepatutnya kita sebagai generasi penerus peradaban ini mensosialisasikan tradisi-tadisi warisan leluhur supaya dapat bertahan. Sebab di era yang serba canggih dan lebih modern ini, tak hayal kegiatan-kegiatan yang bersifat tradisional akan tergusur secara perlahan. Seiring dengan mengikuti perkembangan zaman, modifikasi Kembang Endhog mulai mengalami beragam bentuk di masyarakat secara liar. Makna filosofis yang terkandung di dalamnya tak jarang sudah terbuang, sebab kembang endhog kini sudah berubah menjadi replika jenis hewan dan barong hingga naga. Tentu, dengan penyimngan ini kita selaku pewaris yang tahu akan esensi dari filosofi ajarannya patut untuk meluruskan dan mengembalikan kembali makna kembang endhog itu sendiri.
Momen itu merupakan sebuah kesempatan bagi para pengusaha industri rumahan. Maulid Nabi Muhammad Saw. seolah menjadi momentum bagi warga Banyuwangi untuk mengais rizki. Namun 2 tahun lalu ketika pandemi datang orderan tidak setinggi tahun sebelum pandemi Covid-19, tapi setidaknya bisa membantu perekonomian Banyuwangi disaat sulit mencari rejeki. Banyak ibu-ibu rumah tangga yang membuat ribuan kembang endhog untuk dijual kepada penduduk hampir setiap tahun sebelum Maulid Nabi. Memang dari sebelum-sebelumnya para produsen kembang endog ini sudah memiliki pelanggan tetap, mereka juga pedagang yang nantinya akan menjual lagi ke warga lain. Para produsen menjual harga kembang endog dengan mematok Rp.30.000 ribu per 100 biji untuk motif biasa ada juga yang Rp.80.000 ribu per 100 biji untuk motif yang bagus, jadi harga tergantung motif juga berpengaruh pada kualitas.
Keragaman budaya yang terdapat di Banyuwangi menjadikan nilai plus tersendiri. Daya tarik yang disuguhkan membuat Kabupaten ini menjadi suplay sektor pariwisata yang memesona dan indah. Tak hanya budaya yang beragam, wilayah Bumi Blambangan juga dikenal sebagai wilayah yang dikelilingi para waliyullah, salah satunya tokoh ulama Blambangan yakni KH. Abdullah Faqih Cemoro yang juga merupakan murid dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Sebagai ulama yang dikenal alim, menjadikan gerak dakwah belaiu tidak anya sebatas kulitnya saja untuk mengajarkan nilai ajaran syaria’at. Pembawaan ajaran Islam yang ringan dan mudah dipahami banyak disukai dan sesuai dengan karakter masyarakat sekitar. Maka dengan hal itu KH. Abdullah Faqih mengalkulturasikan ajaran Islam dengan budaya sekitar.
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berkomentar!