Dengan segala kekurangan dan ketidakpantasan saya.
Pada tulisan ini, saya tidak sedang bermaksud untuk membuat resensi buku itu
sebagaimana orang meresensi sebuah buku: merangkum isinya, menilai kelebihan
dan kekurangannya, lalu memberikan rekomendasi kepada pembaca. Saya ingin berupaya
menorehkan sedikit dilema dan sedikit kegelisahan yang muncul setelah
berhadapan dengan gagasan Farag Fouda, kegelisahan yang barangkali lebih banyak
berbicara tentang diri saya sendiri daripada tentang buku itu.
Prolog
Sebelum
memulai ngalor-ngidul, ada baiknya saya mengingat kembali dan juga sebagai
Fyi bagi teman-teman pembaca, bahwa beliau; Farag Fouda merupakan seorang
penulis Muslim, pemikir, dan aktivis hak asasi manusia asal Mesir, yang dibunuh
oleh sesama orang Muslim sendiri dengan landasan atau pijakan fatwa murtad
dari ulama al-Azhar (institusi keagamaan Islam terkemuka di Mesir ‘siapa yang
tidak tahu?’) dan penghalalan darah dari pimpinan suatu kelompok muslim
ekstrimis pada saat itu. Miris!
Tesis: Islam sama dengan (bukan) sejarah umat
Islam
Saya sengaja menaruh kata bukan di dalam
kurung. Bukan karena saya ragu bahwa Islam bukanlah sejarah umat Islam,
melainkan karena dalam kesadaran banyak orang, keduanya kerap diperlakukan
seolah-olah terlalu sederhana dan identik: Islam adalah umat Islam, dan umat
Islam adalah Islam. Sejarah umat Islam kemudian dianggap sebagai sejarah
Islam itu sendiri. Padahal, bagi saya, tidak demikian.
Manusia tetaplah manusia. Ia memiliki kepentingan,
ambisi, konflik, kesalahan, interpretasi, perebutan kekuasaan, dan keterbatasan
dalam banyak hal. Begitu pula umat Islam. Menjadi seorang Muslim tidak membuat
seseorang keluar dari kategori manusia. Ia tetap berada di dalam sejarah,
dengan seluruh kemungkinan baik dan buruk yang dimiliki manusia. Karena itu, tidak kemudian setiap tindakan politis maupun apolitis dapat secara otomatis disucikan hanya
karena pelakunya Muslim, atau karena tindakan tersebut dibungkus dengan bahasa
yang katanya “Agama”. Pun, sebenarnya bahasa agama tidak dengan
sendirinya menjadikan sebuah tindakan sebagai tindakan agama. Identitas keislaman
seseorang juga tidak secara otomatis kemudian menjadikan seluruh tindakannya
sebagai satu pengejawantahan mutlak dari Islam sendiri.
Di sinilah Al-Haqiqah al-Gha'ibah karya
Farag Fouda menjadi menarik. Fouda mengajak pembacanya melihat kembali sejarah
politik umat Islam tanpa harus terlebih dahulu menempatkannya di atas pedestal
(baca: Fondasi) kesakralan. Ia
membawa kita kepada sejarah Khulafa al-Rasyidin, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, dan pelbagai
episode politik sesudahnya, bukan hanya melalui kisah kejayaan, tetapi juga
melalui konflik, perang, perebutan kekuasaan, pembunuhan, dan berbagai
kontradiksi memprihatinkan manusia yang menyertainya.
Pemantik: Apakah seluruh
sejarah yang dilakukan oleh umat Islam otomatis merupakan Islam?
Barangkali pertanyaan tersirat yang diajukan Fouda tersebut
tampak sederhana, dan klise. Tetapi kendati demikian ia perlahan merasuki
pembacaan saya dan sedikit membuat tidak nyaman. Sebab jika sejarah umat Islam
adalah Islam itu sendiri, maka setiap kesalahan umat Islam akan menjadi
kesalahan Islam; setiap perebutan kekuasaan akan menjadi ancaman dari kesucian
Islam; dan setiap tindakan politik yang menggunakan simbol agama akan
memperoleh legitimasi hanya karena ia memakai nama Islam.
Di sinilah saya merasa Fouda tidak sedang sekadar
mengajak kita membaca sejarah. Ia sedang mengajak kita memisahkan manusia dari
sesuatu yang selama ini terlalu mudah kita sakralkan hanya karena manusia itu
membawa nama atau simbolnya.
Kontemplasi:
Manusia sama dengan Manusia
Terlepas
dari gandrungnya berbagai kerangka berpikir yang terus digaungkan, naluri
manusia tidak akan berbohong, ia tetap memiliki kemampuan untuk menilai
tindakan sebagai tindakan moral atau sebaliknya. Sehingga, sebuah
tindakan tidak menjadi benar hanya karena dilakukan oleh seorang Muslim.
Terlebih lagi, ia tidak menjadi benar hanya karena diselimuti bahasa agama.
Dari sini jelas, bahwa persoalannya
memang bukan agama. Persoalannya adalah manusia yang membawa agama ke dalam
sejarah.
Dan pada
titik ini saya sendiri masih tarik ulur dalam dilema, skeptis, sekaligus
bingung wabil khusus pada diri saya sendiri dan juga terhadap apa yang dimaksud
orang-orang ketika mengatakan “agama”. Merupakan hal yang baru
bagi saya, mungkin juga bagi sebagian pembaca dagelan ngalor-ngidul ini.
Saya menemukan penjelasan mengenai kata “agama” yang dikaitkan dengan bahasa Sansekerta: a, yang dimaknai “tidak”, dan gama,
yang dikaitkan dengan “kacau”. Secara sederhana, ia kemudian dipahami
sebagai “tidak kacau”. Entah sejauh mana penjelasan etimologis itu dapat
dipertanggungjawabkan secara kebahasaan. Tetapi gagasan tentang “tidak kacau”
tersebut justru mengganggu pikiran saya untuk kedua kalinya.
Jadi begini,
jika agama dipahami sebagai sesuatu yang semestinya menghadirkan keteraturan,
mengapa manusia yang mengaku beragama berkali-kali membawa kepentingan,
konflik, perebutan kekuasaan, bahkan kekacauan ke dalam sejarah atas nama
agama? Ya, mungkin jawabannya kembali kepada satu benang
merah: agama dan manusia memang bukanlah hal yang sama. Agama mungkin memiliki ajaran dan idealnya
sendiri. Tetapi ketika agama memasuki sejarah, ia bertemu dengan manusia.
Manusia menafsirkan agama, membangun institusi atas namanya, menggunakannya
dalam kehidupan sosial, bahkan membawanya ke dalam arena politik. Pada titik
itulah kita menjadi perlu mengupayakan sekularisasi antara agama, manusia,
tafsir manusia terhadap agama, dan sejarah manusia yang mengatasnamakan agama.
Dan upaya itu saya kira pantas dilakukan, bukan karena lain hal kecuali karena (agama)
Islam.
Klimaks Humanistik: Tragedi
Fouda berulang kali memperlihatkan persoalan serupa pun
senada melalui kilas balik torehan sejarah,
sebab baginya “Tidak ada bukti yang paling kuat dibanding sejarah”. Mematahkan narasi romantisasi sejarah, ia
menegaskan bahwa sejarah menyajikan fakta mentah yang jujur dan tidak
terbantahkan, termasuk konflik berdarah, perebutan kekuasaan, korupsi, dan
pembunuhan para pemimpin yang terjadi di antara sesama Muslim sendiri.
Tepat pada bagian akhir bukunya ia membawa pembaca kepada kisah Yusuf Wahbah Pasha, seorang Kristen Koptik yang pernah menjadi Perdana Menteri Mesir yang terbunuh oleh Arian Saad, yang juga sama seorang Koptik sepertinya. Dalam kisah yang dituturkan, pemakaman Yusuf Wahbah menjadi sebuah adegan simbolik: suara lonceng gereja sebagai penghormatan jenazah dan azan masjid hadir di ruang juga waktu yang sama. Kontan manusia-manusia yang hadir menyaksikannya pada saat itu larut dalam kesedihan pada babak terakhir Yusuf Wahbah.
Bagi saya, kisah itu seperti menggeser seluruh
perdebatan Fouda dari politik menuju sesuatu yang lebih sederhana tapi fundamental:
Manusia. Lonceng tidak harus berhenti agar azan terdengar. Azan tidak harus mengalahkan lonceng agar
Islam menjadi Islam. Keduanya dapat hadir di atas tanah yang sama, di tengah
manusia yang sama-sama memiliki kesedihan, kehilangan, dan rasa kemanusiaan.
Dan mungkin di situlah agama seharusnya kembali
ditemukan, bukan sebagai alat
untuk menentukan siapa yang lebih suci. Bukan pula sebagai legitimasi untuk menguasai manusia
lain, melainkan sebagai sesuatu yang semestinya membuat manusia lebih tertib
terhadap dirinya sendiri dan lebih manusiawi terhadap manusia lainnya.
Epilog: Maka
Saya akan kembali pada tesis awal “Islam sama dengan (bukan) sejarah umat Islam”. Umat Islam adalah manusia. Sejarah umat Islam adalah sejarah manusia yang membawa identitas Islam. Ia dapat memuat kebajikan, tetapi juga kesalahan, keadilan, tetapi juga kekuasaan, ketulusan, tetapi juga kepentingan. Dan sebagaimana penutup dalam terjemahan pada tulisan Fouda tersebut, Al-Haqiqah al-Gha'ibah, saya akan menutup dengan kalimat yang sama: Lalu Apa? (silakan).
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berkomentar!