Islam, Umat Islam, Dan Kebenaran Yang Hilang

M. Roqy Azmi
25 Aug 2026, 17:01 WIB 94x dibaca
Islam, Umat Islam, Dan Kebenaran Yang Hilang

Dengan segala kekurangan dan ketidakpantasan saya. Pada tulisan ini, saya tidak sedang bermaksud untuk membuat resensi buku itu sebagaimana orang meresensi sebuah buku: merangkum isinya, menilai kelebihan dan kekurangannya, lalu memberikan rekomendasi kepada pembaca. Saya ingin berupaya menorehkan sedikit dilema dan sedikit kegelisahan yang muncul setelah berhadapan dengan gagasan Farag Fouda, kegelisahan yang barangkali lebih banyak berbicara tentang diri saya sendiri daripada tentang buku itu.

 

Prolog

 

Sebelum memulai ngalor-ngidul, ada baiknya saya mengingat kembali dan juga sebagai Fyi bagi teman-teman pembaca, bahwa beliau; Farag Fouda merupakan seorang penulis Muslim, pemikir, dan aktivis hak asasi manusia asal Mesir, yang dibunuh oleh sesama orang Muslim sendiri dengan landasan atau pijakan fatwa murtad dari ulama al-Azhar (institusi keagamaan Islam terkemuka di Mesir ‘siapa yang tidak tahu?’) dan penghalalan darah dari pimpinan suatu kelompok muslim ekstrimis pada saat itu. Miris!

 

Tesis: Islam sama dengan (bukan) sejarah umat Islam

 

Saya sengaja menaruh kata bukan di dalam kurung. Bukan karena saya ragu bahwa Islam bukanlah sejarah umat Islam, melainkan karena dalam kesadaran banyak orang, keduanya kerap diperlakukan seolah-olah terlalu sederhana dan identik: Islam adalah umat Islam, dan umat Islam adalah Islam. Sejarah umat Islam kemudian dianggap sebagai sejarah Islam itu sendiri. Padahal, bagi saya, tidak demikian.

 

Manusia tetaplah manusia. Ia memiliki kepentingan, ambisi, konflik, kesalahan, interpretasi, perebutan kekuasaan, dan keterbatasan dalam banyak hal. Begitu pula umat Islam. Menjadi seorang Muslim tidak membuat seseorang keluar dari kategori manusia. Ia tetap berada di dalam sejarah, dengan seluruh kemungkinan baik dan buruk yang dimiliki manusia. Karena itu, tidak kemudian setiap tindakan politis maupun apolitis dapat secara otomatis disucikan hanya karena pelakunya Muslim, atau karena tindakan tersebut dibungkus dengan bahasa yang katanya “Agama”. Pun, sebenarnya bahasa agama tidak dengan sendirinya menjadikan sebuah tindakan sebagai tindakan agama. Identitas keislaman seseorang juga tidak secara otomatis kemudian menjadikan seluruh tindakannya sebagai satu pengejawantahan mutlak dari Islam sendiri.

 

Di sinilah Al-Haqiqah al-Gha'ibah karya Farag Fouda menjadi menarik. Fouda mengajak pembacanya melihat kembali sejarah politik umat Islam tanpa harus terlebih dahulu menempatkannya di atas pedestal (baca: Fondasi) kesakralan. Ia membawa kita kepada sejarah Khulafa al-Rasyidin, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, dan pelbagai episode politik sesudahnya, bukan hanya melalui kisah kejayaan, tetapi juga melalui konflik, perang, perebutan kekuasaan, pembunuhan, dan berbagai kontradiksi memprihatinkan manusia yang menyertainya.

 

Pemantik: Apakah seluruh sejarah yang dilakukan oleh umat Islam otomatis merupakan Islam?

 

Barangkali pertanyaan tersirat yang diajukan Fouda tersebut tampak sederhana, dan klise. Tetapi kendati demikian ia perlahan merasuki pembacaan saya dan sedikit membuat tidak nyaman. Sebab jika sejarah umat Islam adalah Islam itu sendiri, maka setiap kesalahan umat Islam akan menjadi kesalahan Islam; setiap perebutan kekuasaan akan menjadi ancaman dari kesucian Islam; dan setiap tindakan politik yang menggunakan simbol agama akan memperoleh legitimasi hanya karena ia memakai nama Islam.

 

Di sinilah saya merasa Fouda tidak sedang sekadar mengajak kita membaca sejarah. Ia sedang mengajak kita memisahkan manusia dari sesuatu yang selama ini terlalu mudah kita sakralkan hanya karena manusia itu membawa nama atau simbolnya.

 

Kontemplasi: Manusia sama dengan Manusia

 

Terlepas dari gandrungnya berbagai kerangka berpikir yang terus digaungkan, naluri manusia tidak akan berbohong, ia tetap memiliki kemampuan untuk menilai tindakan sebagai tindakan moral atau sebaliknya. Sehingga, sebuah tindakan tidak menjadi benar hanya karena dilakukan oleh seorang Muslim. Terlebih lagi, ia tidak menjadi benar hanya karena diselimuti bahasa agama. Dari sini jelas, bahwa persoalannya memang bukan agama. Persoalannya adalah manusia yang membawa agama ke dalam sejarah.

 

Dan pada titik ini saya sendiri masih tarik ulur dalam dilema, skeptis, sekaligus bingung wabil khusus pada diri saya sendiri dan juga terhadap apa yang dimaksud orang-orang ketika mengatakan “agama”. Merupakan hal yang baru bagi saya, mungkin juga bagi sebagian pembaca dagelan ngalor-ngidul ini. Saya menemukan penjelasan mengenai kata “agama” yang dikaitkan dengan bahasa Sansekerta: a, yang dimaknai “tidak”, dan gama, yang dikaitkan dengan “kacau”. Secara sederhana, ia kemudian dipahami sebagai “tidak kacau”. Entah sejauh mana penjelasan etimologis itu dapat dipertanggungjawabkan secara kebahasaan. Tetapi gagasan tentang “tidak kacau” tersebut justru mengganggu pikiran saya untuk kedua kalinya.

 

Jadi begini, jika agama dipahami sebagai sesuatu yang semestinya menghadirkan keteraturan, mengapa manusia yang mengaku beragama berkali-kali membawa kepentingan, konflik, perebutan kekuasaan, bahkan kekacauan ke dalam sejarah atas nama agama? Ya, mungkin jawabannya kembali kepada satu benang merah: agama dan manusia memang bukanlah hal yang sama. Agama mungkin memiliki ajaran dan idealnya sendiri. Tetapi ketika agama memasuki sejarah, ia bertemu dengan manusia. Manusia menafsirkan agama, membangun institusi atas namanya, menggunakannya dalam kehidupan sosial, bahkan membawanya ke dalam arena politik. Pada titik itulah kita menjadi perlu mengupayakan sekularisasi antara agama, manusia, tafsir manusia terhadap agama, dan sejarah manusia yang mengatasnamakan agama. Dan upaya itu saya kira pantas dilakukan, bukan karena lain hal kecuali karena (agama) Islam.

 

Klimaks Humanistik: Tragedi

 

Fouda berulang kali memperlihatkan persoalan serupa pun senada melalui kilas balik torehan sejarah, sebab baginya “Tidak ada bukti yang paling kuat dibanding sejarah”. Mematahkan narasi romantisasi sejarah, ia menegaskan bahwa sejarah menyajikan fakta mentah yang jujur dan tidak terbantahkan, termasuk konflik berdarah, perebutan kekuasaan, korupsi, dan pembunuhan para pemimpin yang terjadi di antara sesama Muslim sendiri.

 

Tepat pada bagian akhir bukunya ia membawa pembaca kepada kisah Yusuf Wahbah Pasha, seorang Kristen Koptik yang pernah menjadi Perdana Menteri Mesir yang terbunuh oleh Arian Saad, yang juga sama seorang Koptik sepertinya. Dalam kisah yang dituturkan, pemakaman Yusuf Wahbah menjadi sebuah adegan simbolik: suara lonceng gereja sebagai penghormatan jenazah dan azan masjid hadir di ruang juga waktu yang sama. Kontan manusia-manusia yang hadir menyaksikannya pada saat itu larut dalam kesedihan pada babak terakhir Yusuf Wahbah.


Bagi saya, kisah itu seperti menggeser seluruh perdebatan Fouda dari politik menuju sesuatu yang lebih sederhana tapi fundamental: Manusia. Lonceng tidak harus berhenti agar azan terdengar. Azan tidak harus mengalahkan lonceng agar Islam menjadi Islam. Keduanya dapat hadir di atas tanah yang sama, di tengah manusia yang sama-sama memiliki kesedihan, kehilangan, dan rasa kemanusiaan.

 

Dan mungkin di situlah agama seharusnya kembali ditemukan, bukan sebagai alat untuk menentukan siapa yang lebih suci. Bukan pula sebagai legitimasi untuk menguasai manusia lain, melainkan sebagai sesuatu yang semestinya membuat manusia lebih tertib terhadap dirinya sendiri dan lebih manusiawi terhadap manusia lainnya.

 

Epilog: Maka

 

Saya akan kembali pada tesis awal “Islam sama dengan (bukan) sejarah umat Islam”. Umat Islam adalah manusia. Sejarah umat Islam adalah sejarah manusia yang membawa identitas Islam. Ia dapat memuat kebajikan, tetapi juga kesalahan, keadilan, tetapi juga kekuasaan, ketulusan, tetapi juga kepentingan. Dan sebagaimana penutup dalam terjemahan pada tulisan Fouda tersebut,  Al-Haqiqah al-Gha'ibah, saya akan menutup dengan kalimat yang sama: Lalu Apa? (silakan).

Bagikan tulisan ini:

Diskusi

0

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berkomentar!