Glenmore Dengan Segala Kisahnya

Admin HS
22 Dec 2025, 04:21 WIB 119x dibaca
Glenmore Dengan Segala Kisahnya

Glenmore: Eropa yang Tersembunyi di Ujung Pulau Jawa

Jika kita menyebutkan nama Glenmore, mungkin kesan pertama yang ada dibenak kita adalah nama sebuah daerah di luar negeri. Ya, tidak sepenuhnya salah, namun Glenmore juga nama daerah di Kabupaten Banyuwangi sebagai bukti orang Skotlandia yang pernah sampai di ujung timur Pulau Jawa. Glenmore adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang terletak di kaki Gunung Raung. Daerah ini ketika zaman Belanda adalah perkebunan kopi, kakao dan karet yang dimiliki Ros Taylor seorang pengusaha dari Skotlandia. Kehadiran pengusaha Skotlandia di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) disertai dengan kebijakan politik etis. Glenmore dalam bahasa Gaelik berarti 'Big Glen' atau daerah perbukitan yang sangat luas. Ketika orang Skotlandia mengembara ke luar dari negaranya, maka nama Glenmore pun ada dibeberapa sudut dunia. Menurut penelitian Arif Firmansyah dan M. Iqbal Fardian, penulis buku ' Glenmore Sepetak Eropa di Tanah Jawa',  setidaknya ada 16 daerah di dunia yang memiliki nama Glenmore. Lalu negara mana sajakah yang penamaan daerahnya menggunakan nama Glenmore dan bagaimana sejarah Glenmore yang ada di Banyuwangi?

Nama Glenmore setidaknya ada 16 daerah dari empat benua (Benua Eropa, Amerika, Asia dan Australia) yang menggunakannya, antara lain: 9 kota berada di Amerika Serikat, 4 kota di Irlandia, 1 kota di Inggris, 1 kota di Australia dan 1 kota kecamatan di Indonesia tepatnya di Banyuwangi yang merupakan satu-satunya daerah yang menggunakan nama Glenmore di Indonesia bahkan di Asia. Tidak hanya penamaan sebuah daerah saja, tepatnya di Catalina Island, Amerika Serikat juga terdapat sebuah bangunan yang diberi nama Glenmore yang dibangun pada tahun 1891 yakni Glenmore Plaza Hotel.

Penamaan Glenmore sendiri di Banyuwangi pada awalnya adalah nama dari perkebunan yang dibangun oleh Ros Taylor, investor perkebunan dari Skotlandia pada tahun 1909. Ros Taylor berkongsi dengan Raden Mas Panji Djojodiningrat, seorang bangsawan Jawa yang pernah menjadi wedana di Bulang, Sidoarjo. Ros Taylor tetap bermukim di Skotlandia dan sesekali menetap di Glenmore. Sedangkan Raden Mas Panji Djoyodiningrat menjadikan Glenmore sebagai tempat peristirahatan  barunya dengan membangun rumah yang berjarak 3 kilometer dari perkebunan. Kawasan ini lambat laun berkembang pesat di mana daerah Glenmore menjadi kota penting di masa kolonial. Raden Mas Panji Djojodiningrat hijrah ke ujung timur Jawa, memulai babak baru dalam hidupnya. Raden Mas Panji Djojodiningrat terlahir sebagai Raden Sudarmo, di dalam tubuhnya mengalir darah bangsawan Jawa dari trah Kromodjayan Kanoman keturunan kedelapan dari Ki Ageng Dermoyudho. Nenek moyangnya adalah keturunan langsung Prabu Brawijaya V dari garis Panembahan Bromo atau Lembu Niro. Trah Kromodjayan Kanoman ini tidak lepas dari sosok Ki Ageng Dermoyudho, Panglima Perang Kerajaan Mataram Islam di masa Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613–1646). Raja Mataram menempatkan Ki Ageng Dermoyudho di Pasuruan untuk mengawasi pergerakan Kerajaan Blambangan. Ayah Raden Sudarmo, Raden Adipati Arya Kromodjoyo Dirono II adalah Bupati Surabaya tahun 1859-1863 dan Bupati Lamongan tahun 1866-1885. Sedangkan ibunya, Raden Ayu Kamidah adalah anak dari Raden Adipati Tjondro Hadiningrat, Bupati Rembang. Raden Sudarmo kemudian menikah dengan Raden Ajeng Roekmini, bangsawan dari trah Kasunanan Surakarta Solo. Setelah menunaikan rukun Islam yang kelima yakni berhaji, Raden Sudarmo mengganti namanya menjadi Muhammad Yasin Effendi dan dikenal sebagai Mbah Yasin, sosok penting daerah Glenmore. 

Menjadi Sektor Penting di Ujung Timur Jawa Era Kolonial

Pada masa kolonial Belanda, Glenmore dirancang menjadi kota penting dan juga menjadi salah satu kawasan yang dikembangkan. Memiliki hamparan tanah yang subur, daerah ini sukses menarik minat investor asing asal Eropa. Selain Glenmore, ada pula Perkebunan Kali Sepanjang, Kali Telapak, dan Perkebunan Kalikempit yang dikelola Belanda, serta Perkebunan Trebasala milik orang Inggris dan Perkebunan Glen Falloch milik orang Skotlandia. Tak heran jika banyak peninggalan bersejarah di kawasan ini. Salah satunya pabrik pengolahan karet yang dibangun pada tahun 1910. Selain itu, ada sarengan atau pipa air sepanjang 1 kilometer yang berfungsi untuk menggerakkan turbin.   Proyek ini dikerjakan oleh Firma Carl Schlieper, Surabaya pada tahun 1920. Ada juga ketel uap buatan Ruston Proctor & CL Lincoln, Inggris tahun 1920 yang digunakan sebagai penggerak turbin pengolahan karet dan kakao. Salah satunya peninggalan sejarah yang menarik yakni Rumah Sakit Bhakti Husada. Rumah sakit yang awalnya sebauh klinik bernama Ziekenhuis Krikilan dikhususkan untuk pekerja perkebunan. Klinik tersebut mengoperasikan alat rontgen merek Philips buatan Jerman pada tahun 1920. Klinik tersebut menjadi rumah sakit paling modern di masanya.


Geografis Glenmore sendiri yang berada di kaki Gunung Raung menjadikannya suatu keuntungan tersendiri, mengingat iklim yang cocok bagi beberapa tumbuhan yang dapat ditanam di sana. Dalam perkembangannya Glenmore dahulu merupakan sebuah wilayah yang dirancang oleh Pemerintah Kolonial Belanda yang diproyeksikan menjadi kota administrasi. Bahkan dijadikan sentral komoditas perkebunan dengan tebu, kopi, kakao, dan karet sebagai komoditas utama dan berfungsi sebagai pusat pengiriman hasil bumi ke Rotterdam, Belanda. Tercatat ada beberapa PT. Perkebunan Nusantara XII dengan Holding Company di PT. Perkebunan Nusantara III yang ada di wilayah Banyuwangi terkhususnya yang ada di Glenmore, seperti PTPN XII Kalikempit, PTPN XII Kalirejo, Perkebunan Kendeng Lembu, dan masih banyak PTPN XII yang tersebar di Glenmore. Tidak hanya itu saja, Glenmore juga sebagai tempat produksi gula terbesar di Indonesia yang dioperasikan oleh PT Industri Gula Glenmore (IGG). 

Bagikan tulisan ini:

Diskusi

0

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berkomentar!