Bentangan alam di Indonesia selalu memberikan daya magis tersendiri bagi pekerja kreatiif, tidak terkecuali para seniman yang melukiskannya di atas media kanvas. Keindahan gunung, lautan, dan sawah terutama yang terasiring memang menawarkan indahnya visual yang menawan. Kombinasi warna hijau daun padi, lahan pertanian, potret panen raya, hingga langit biru tidak terbatas dapat menciptakan perpaduan yang hangat, harmonis dalam karya seni.
Begitupun karya-karya dari Abdullah SR. Ia sangat menyukai pemandangan, di mana dari karyanya membuat banyak penikmat merasa dapat menumbuhkan dan kembali menghantarkan kenangan di masa lalu. Salah satu karya pentingnya adalah lukisan bertajuk “Bamboo Forest” sama halnya dengan “Village Scene” lukisan ini menggunakan sebuah cat minyak di atas kanvas berukuran sekitar 60 × 95 cm. Lukisan ini memperlihatkan gugusan bambu yang rapat membentuk lorong alam, di tengah remang cahaya fajar ataupun senja, menciptakan efek dramatis dan harmonisasi visual yang meneduhkan, karakter khas naturalisme romantik ala Abdullah SR masih menjadi bagian penting di dalam setiap goresanya.
Secara historis, “Bamboe Forest” adalah manifestasi alami dari genre Mooi Indie. Lukisan ini menolak narasi konflik dan kolonialisme, lalu menonjolkan keindahan alam tropis yang menenangkan dan mendamaikan mata penonton Eropa, serta mengaburkan realitas sosial saat itu. Komposisi lorong bambu yang menyempit, sorotan cahaya yang lembut, dan absennya unsur manusia tidak seperti lukisan “Village Scene” yang masih ada wujud manusia di tengah lukisan. Ketidakhadiran manusia ini menandakan penegaskan fungsi estetisnya sebagai “Little Garden” yang bebas dari penindasan dan ketegangan malah menunjukan sebuah keindahan harmoni.
Secara personal, lukisan ini bagi penulis mampu membangkitkan ingatan masa lalu yang indah. Nuansa ketakutan sekaligus kewaspadaan yang dulu melekat dalam pengalaman masa kecil pun turut hadir kembali. Masyarakat desa pada masa itu sering mengingatkan anak anak untuk tidak mendekati atau melewati hutan bambu, yang diyakini sebagai tempat bersemayam makhluk gaib seperti “wewe gombel”. Ingatan-ingatan semacam ini menumbuhkan rasa kerinduan yang mendalam, apalagi ketika menyadari bahwa hutan-hutan tersebut kini telah berubah menjadi kawasan pemukiman. Tempat yang dahulu menyimpan kenangan dan cerita kini telah hilang, bersama ruang imajinatif yang pernah menghidupkannya. Melalui karya Abdullah SR dan lukisan-lukisan serupa, kerinduan itu seolah menemukan jalannya kembali sebuah resonansi atau keterhubungan secara emosional yang menyatukan lanskap masa lalu dengan ruang batin masa ini.
Namun demikian, pendekatan personal terhadap karya seni perlu dilengkapi dengan kerangka kuratorial yang lebih menyeluruh. Saya mengusulkan bahwa ketika sebuah pameran dibingkai dalam konteks “kenangan masa lalu”, maka penyajiannya juga perlu menghadirkan unsur pengalaman inderawi yang mendukung. Misalnya, ruang pamer dapat dengan elemen yang merekonstruksi suasana masa kecil seperti area bermain tradisional, pengalaman melepas alas kaki, atau instalasi yang membangkitkan memori kolektif desa. Selain itu, pembacaan visual terhadap karya-karya Abdullah SR masih dapat dikembangkan melalui analisis teknis yang lebih dalam, seperti penggunaan perspektif, arah pencahayaan, dan komposisi visual.
Refleksi atas penataan karya di ruang museum juga menjadi aspek penting, karena kurasi turut membentuk cara penonton mengalami dan menafsirkan karya serta merasakan emosional dari karya. Posisi lukisan dalam galeri, pengaturan cahaya, serta narasi kuratorial yang disematkan akan sangat memengaruhi makna yang diterima oleh publik. Dengan demikian, tulisan ini merupakan bentuk langkah awal dalam membaca ulang karya Abdullah Suriosubroto, bukan semata sebagai objek estetis, tetapi juga sebagai medan tafsir sejarah, memori, dan identitas.
Karya-karya Abdullah Suriosubroto tidak hanya mencerminkan kemampuan teknis dan estetika lanskap tropis khas Mooi Indie, tetapi juga menyimpan potensi sebagai pemantik memori dan ruang kolektif kehidupan masa lalu. Meskipun sering dikritik karena dianggap tidak politis atau apolitis dan terlalu romantis terhadap alam padahal realita pada masa itu adalah dominasi penjajahan. Lukisan-lukisan seperti Village Scene dan Bamboo Forest justru menunjukkan bagaimana seni rupa bisa menjadi jembatan antara pengalaman visual dan pengalaman batin. Dalam konteks ini, Abdullah SR telah menciptakan ruang visual yang tidak hanya menyenangkan mata, tetapi juga membangkitkan kenangan personal dan kultural tentang pedesaan, kesunyian, dan keintiman ruang hidup masa lalu. Di titik inilah, seni rupa menjadi tidak hanya representasi visual, tetapi juga wadah bagi kerinduan, keterhubungan, dan pemaknaan ulang terhadap masa lalu yang perlahan menghilang.
Referensi
Carey, Peter. 2005. Wahidin Sudirohusodo: National Awakening and the Politics of Representation in Late Colonial Java. Jakarta: LP3ES.
Ginanjar, Prasetyo Agung. “Profil Abdullah Suriosubroto, Maestro Seni Lukis Naturalis di Indonesia.” Hypeabis.id, 10 Januari 2023. https://hypeabis.id/read/20764/profil-abdullah-suriosubroto-maestro-seni-lukis-naturalis-di-indonesia.
Holt, Claire. 1967. Art in Indonesia: Continuities and Change. Ithaca: Cornell University Press.
Kartika, Dharsono Sony. 2017. Seni Rupa Modern: Edisi Revisi. Bandung: Rekayasa Sains.
Setya R, W. 2010. Aliran Seni Lukis Indonesia. Semarang: Penerbit PT. Bengawan Ilmu.
Sudjojono, S. 1979. “Kesenian yang Hidup.” Kesadaran Seni Rupa Indonesia, Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.
Suriosubroto, Abdullah. Bamboo Forest. Oil on canvas, 60 × 95 cm. Artisoo, www.artisoo.com/bamboo-forest-p-103243.html. Accessed 23 June 2025.
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berkomentar!