Sejauh ini, dapat dikatakan manusia modern sering kali mengukur kekuatan bahasa dari hal-hal yang tampak di permukaan: jumlah penutur, dominasi ekonomi, serta kehadirannya dalam teknologi dan komunikasi global. Bahasa yang digunakan dalam forum internasional dianggap kuat, sementara bahasa yang perlahan samar dari ruang publik dipandang lemah dan menuju kepunahan. Namun, benarkah ketahanan suatu bahasa hanya ditentukan oleh seberapa sering ia terdengar?
Di titik ini, kita perlu menengok kembali makna bahasa itu sendiri—bukan sekedar dan terbatas sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai penjaga makna, pembawa peradaban, dan cermin jiwa manusia. Dan pada pembahasan ini juga dalam perjalanan sejarah yang panjang, Bahasa Arab hadir sebagai sesuatu yang tidak mudah dijelaskan hanya dengan statistik.
Satu: Bahasa dan Hierarki Kekuasaan
Ya, dunia hari ini membentuk semacam hierarki bahasa. Ada bahasa yang berdiri di puncak karena kekuatan ekonomi dan politik, seperti Bahasa Inggris, yang menjadi lingua franca global—digunakan dalam bisnis, teknologi, dan diplomasi. Ada pula bahasa lain yang bertahan karena jumlah penuturnya yang besar, katakan Bahasa Mandarin contohnya.
Namun, di balik itu semua, muncul satu pertanyaan yang jarang diajukan: Apakah dominasi semacam itu berarti keabadian?
Sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa bahasa yang kuat hari ini belum tentu menjadi bahasa yang hidup esok hari. Bahasa Latin pernah menguasai Eropa, tetapi kini ia hanya tinggal sebagai warisan intelektual. Dari sini maka, kekuatan bahasa ternyata tidak hanya bertumpu pada kekuasaan, melainkan pada sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak mudah runtuh karena perubahan zaman semata.
Dua: Bahasa Arab dan Ketahanan yang Berbeda
Hampir semua orang tau bahwa berbeda dari bahasa-bahasa yang bertumpu pada kekuatan material saja, Bahasa Arab bertahan dalam ruang yang lebih sunyi namun kokoh, yaitu ruang makna dan keyakinan.
Ia bukan sekadar bahasa suatu bangsa, tetapi bahasa yang hidup dalam kesadaran kolektif lintas wilayah dan generasi. Dengan bukti yang ia baca dalam doa, dilafalkan dalam ibadah, dan sebagian dihafal bahkan oleh mereka yang tidak bisa berbahasa sehari-hari. Dalam konteks ini, bahasa Arab tidak sepenuhnya bergantung pada ekonomi atau suatu negara, melainkan pada iman, tradisi, dan kesinambungan spiritual. Di sinilah letak kekuatannya, bahasa Arab tidak hanya digunakan—ia dihidupi.
Maka, ketika banyak bahasa menangani ancaman kepunahan akibat terputusnya transmisi generasi, bahasa Arab justru menemukan jalur regenerasinya sendiri melalui ritus. Ritual yang terus diulang, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ya, ini sebuah mekanisme yang khusus dan tidak sepenuhnya dimiliki oleh bahasa lain.
Tiga: Pengaruh yang Samar Tanpa Disadari
Namun kekuatan bahasa Arab tidak berhenti pada ruang spiritual. Ia juga mengalirkan diam-diam ke dalam bahasa lain, membentuk kosakata, istilah, bahkan cara berpikir.
Dalam Bahasa Indonesia misalnya, kata-kata seperti iman, adil, dunia, dan ilmu bukan sekadar serapan, tetapi merupakan jejak langkah dari perjalanan sejarah panjang antara perdagangan, dakwah, dan pertemuan antar budaya. Yang menarik, pengaruh ini sering kali tidak disadari. Manusia mendengarkannya setiap hari, tapi lupa dari mana ia berasal. Bukankah ini bentuk lain dari keabadian? Hadir tanpa harus menampilkan diri secara utuh.
Empat: Bahasa Arab dan Ruang Perlawanan
Di Indonesia, bahasa Arab pernah ditemukan di tempat lain—bukan hanya sebagai bahasa ilmu, tetapi juga sebagai alat perlawanan budaya.
Di tengah tekanan kolonial yang berusaha menanamkan bahasa dan cara berpikir Barat, pesantren justru memelihara bahasa Arab sebagai benteng identitas. Kitab-kitab dipelajari, aksara dijaga, dan tradisi intelektual dirawat dalam diam.
Ia tidak turun ke jalan dengan teriakan, tetapi bekerja dalam kesunyia—membentuk cara berpikir, menjaga keyakinan, dan menolak dominasi tanpa harus menyatakannya secara terbuka. Di titik ini, bahasa Arab bagi saya menjadi lebih dari sekadar bahasa: ia menjadi ruang kemerdekaan batin.
Lima: Di Antara Kepunahan dan Keabadian
Beberapa bulan yang lalu, saya mendapatkan satu hal menarik dari guru saya, beliau yang berkata: “Banyak penelitian menunjukkan bahwa ribuan bahasa di dunia berada di ambang kepunahan. Generasi muda mulai meninggalkan bahasa leluhur mereka, beralih ke bahasa yang dianggap lebih gaya, modern, dan menguntungkan”.
Setelah saya mencari-cari dari berbagai literatur, yang dalam sisio-bahasa fenomena ini sering disebut sebagai pergeseran bahasa—pergeseran yang perlahan, tetapi pasti.
Namun, di tengah arus itu, bahasa Arab tetap berdiri dengan cara yang berbeda. Ia mungkin tidak selalu menjadi bahasa dominan dalam perekonomian global, tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak bahasa lain: akar yang tertanam dalam makna terdalam kehidupan manusia. Lalu pertanyaannya: apakah bahasa yang bertahan adalah bahasa yang paling sering digunakan, atau bahasa yang paling dalam hidup?, silakan.
Akhiran
Sebab bagi saya, pada akhirnya bahasa bukan hanya tentang kata-kata yang diucapkan, melainkan tentang makna yang dijaga dan diwariskan setiap generasinya.
Dan jika benar bahwa banyak bahasa akan hilang ditelan zaman, maka mungkin yang akan tetap bertahan bukanlah yang paling keras terdengar di dunia, melainkan yang paling kuat bersemayam di dalam jiwa manusia.
Ya—di dalam jiwa manusia.
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berkomentar!