Abdullah SR: Representasi “Kenangan” dalam Karya Lukisan “Mooi Indie”

Achmad Thoriq
08 May 2026, 11:47 WIB 61x dibaca
Abdullah SR: Representasi “Kenangan” dalam Karya Lukisan “Mooi Indie”

Lukisan Nyiroro Kidul (1950), Diponegoro Memimpin Pertempuran (1940) merupakan sebuah karya yang sering dilihat oleh banyak kalangan di Indonesia. Seniman yang bertanggung jawab atas ini adalah Basoeki Abdullah, dengan gaya realis menggunakan cat minyak Basoeki dapat menghidupkan sebuah sosok dalam karya lukisanya. Motif lukisan Basoeki Abdullah berkisar pada pemnadangan alam, alam benda, binatang, dan potret manusia. Tentunya sosok seniman hebat tidak sedikit yang lahir dari darah yang hebat pula, nama Abdullah Suriosubroto merupakan sebuah sosok sentral dari perkembangan seni lukis Basoeki Abdullah. Abdullah Suriosubroto atau Abdullah SR merupakan bapak dari Basoeki Abdullah. Hampir mirip dengan anaknya dengan gaya realistik, akan tetapi perbedaan paling mendasar adalah objek dari karya, Basoeki Abdullah tekenal dengan eksplorasi tubuh dan wajah manusia, sedangkan bapaknya yakni Abdullah SR terkenal dengan eksplorasi pemandangan alam. 

Abdullah Suriosubroto (1878-1941) muncul sebagai salah satu pelukis bumiputra pertama yang menguasai teknik melukis gaya Eropa dan secara aktif menghasilkan karya-karya yang kemudian dikaitkan dengan estetika Mooi Indie. Tokoh seniman pelukis yang mengguakan Mooi Indie seperti Abdullah Suriosubroto, Basoeki Abdullah, Wakidi, Pirngadi, Ernest Dezentye, A.A. Gede Sobrat, I. G. N. Lempad, dan pelukis Bali lainya. Abdullah Suriosubroto merupakan penerus dari masa keperintisan Raden Saleh, Abdullah SR memiliki gaya naturalis romantis mirip seperti Raden Saleh. 

Lahir pada 1878 sebagai anak dari tokoh kebangkitan nasional Dr. Wahidin Sudirohusodo, Abdullah SR menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA sebelum akhirnya memilih studi seni di Belanda. Sekembalinya ke Indonesia, Abdullah SR menetap di berbagai kota seperti Yogyakarta dan Bandung, sebelum kemudian lebih banyak tinggal di daerah pegunungan seperti Kaliurang dan Lembang daerah yang kelak menjadi subjek utama dalam lukisan-lukisannya. Abdullah SR kemudian dikenal luas atas lukisan-lukisan lanskapnya yang memikat, menggambarkan alam “Hindia” dengan romantisme keindahan alam Indonesia. Sebagaimana dicatat Claire Holt, karya-karya Abdullah menunjukkan kemahiran teknik Eropa yang dipadukan dengan perasaan mendalam terhadap alam tropis, menjadikannya pelukis bumiputra pertama yang benar-benar mengekspresikan “Hindia” dalam bahasa visual modern.

Karya-karya lukisan dari Abdullah SR mampu membawa para penikmat seni untuk merasakan sensasi keasrian, sejuk, damai, tentram, dan bahkan keharuan ketika melihat karya karyanya. Karena, memang pada dasarnya lukisan karya Abdullah SR mampu menjangkau penikmat untuk melupakan hiruk-pikuk keramaian kota. Dengan itu, lukisan-lukisan dari Abdullah SR banyak menggambil di wilayah-wilayah pedesaan “keindahan” daripada potret perkotaan.

Namun demikian, peran Abdullah SR dalam sejarah seni rupa Indonesia kerap dibaca secara ambivalen atau suka dan tidak suka, cinta dan benci, positif dan negatif. Di satu sisi, Abdullah SR adalah pelopor seorang pelukis bumiputra pertama yang dihargai dalam dunia seni rupa kolonial. Di sisi lain, karya-karyanya kerap dikritik sebagai bagian dari estetika Mooi Indie yang dianggap pasif dan apolitis terhadap masa, bagaimana tidak alih-alih menggambarkan kondisi keterpurukan Indonesia pada masa kolonial, Abdullah SR malah menggambarkan keindahan alam Indonesia. S. Sudjojono, menyebut kritik terhadap Abullah SR bahwa seni lukis seperti itu hanya menyajikan “pemandangan indah tanpa roh zaman”, dan karena itu tidak mewakili realitas rakyat Indonesia yang sedang dijajah.

Sebelum itu masyarakat awam sering keliru tentang aliran-aliran dalam seni lukis, yang mana aliran realisme dan naturalisme sering dipikirkan dengan satu aliran yang sama. Aliran lukisan realisme menitik beratkn pada “kenyataan”, tidak ada campuran apapun tanpa diperindah tone warna, dan langsung ditempat saat objek itu sedang dilukis. Tokoh-tokoh seniman lukis realis seperti S. Sudjojno, Dullah, Henk Ngantung, dan lain sebagainya. Sedangkan aliran yang satunya yakni naturalisme. Aliran ini akan mencari objek lukisan dari alam, dan si pelukis akan memilih objek yang akan dilukis, dan atas dasar keindahan, keunikan, atau alasan lain yang hanya pelukis ketahui. Perbedaan paling mendasar dalam realisme dan naturalisme adalah unsur memilih, karena pada dasarnya dalam aliran naturalisme pelukis bisa menambahkan unsur-unsur keindahan lainya, sedangkan realisme bersifat apa adanya. Maka dari itu pelukis seperti S. Sudjojono sering mengkritik Abdullah SR, karena perbedaan aliran dan ideologi.

Telah banyak para kritikus seni yang mengkritik karya seni dan juga personal dari Abdullah SR, meskipun disisi lain tidak dapat dinafikan bahwa Abdullah SR adalah salah satu seniman lukis berbakat yang dimiliki oleh Indonesia. Tulisan ini alih-alih mengkritik Abdullah SR yang tidak menonjolkan sikap kritis di masa Konial, tulisan ini akan lebih mensyoroti representasi “kenangan” yang didapat saat melihat lukisan dari karya Abdullah SR. Bagaimana cara lukisan Abdullah SR dapat hadir dalam kenangan dan dapat mengembalikan ingatan masa kecil pada suasana pedesaan. 

Pemilihan ini bukan tanpa alasan, saya terinspirasi dari series Daredevil yang diproduksi oleh Marvel serta ditayangkan di Netflix, yang mana dalam satu episode series tersebut karakter antagonis yakni Wilson Fisk sedang mengunjungi pameran dari seniman yang bernama Vanessa. Pada salah satu bagian pameran Wilson Fisk melihat lukisan yang didominasi dengan warna putih polos dengan tekstur tembok, dalam adegan tersebut Wilson Fisk akhirnya meneteskan air mata, yang mana dia mengingat kejadian masa kecilnya yang masih miskin dan Wilson Fisk dan ibunya sering disiksa oleh bapaknya. Dia sering dihukum menghadap ketembok. Dengan adanya lukisan itu Wilson Fisk kembali teringat masa-masa kelam itu. Dengan itu, saya melihat bahwa lukisan-lukisan dapat menghadirkan ingatan ingatan masa lalu entah bersifat luka maupun suka.

Ketika berkunjung ke Museum OHD di Magelang, Jawa Tegah saya terfokus pada satu lukisan karya dari Abdullah SR yang berjudul “Village Scene” dengan dimensi ukuran 100 x 143 cm. Di dalamnya ditampilkan sebuah lukisan indah yang menggambarkan suasana asri pedesaan, dengan di kiri serangkaian pohon bambu, dan di kanan belantara hutan serta jalan setapak tanpa modernisasi aspal masih menghiasi keindahan alam yang dihadirkan oleh Abdullah SR. Asri, sejuk, indah, harmoni menjadi satu ketika melihat lukisan ini. Abdullah SR menggambarkan desa sebagai ruang alami yang damai dan tenang, mengundang kontemplasi ciri khas dari aliran Mooi Indie yang mengekstraksi keindahan lanskap tropis tanpa konflik sosial atau politik. Transformasi pedesaan menjadi tempat estetis menggambarkan bagaimana sang seniman menghadirkan suasana romantik yang menyenangkan. Pertama kali melihat lukisan karya Abdullah SR dengan judul “Village Scene” saya merasakan kenangan masa kecil, main bersama teman-teman rumah tanpa pakai sandal. Lari larian, senda gurau dan tawa menghiasinya. Alasan personal sangat kuat, telebih lagi jalan menuju rumah nenek suasanya mirip seperti karya dari Abdullah SR ini. Melihat lukisan ini, otak serasa dimanjakan dengan imajinasi masa lalu, melupakan hiruk pikuk kedewasaan. Timbul sebuah pernyataan, “ternyata saya pernah diposisi sebebas itu, tanpa beban, dan kewajiban”.

Bagikan tulisan ini:

Diskusi

0

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berkomentar!